SEKlLAS PANDANG TENTANG ALlRAN FILSAFAT
Ahmad Abdul Malik
Fakultas Sastra Dan Kebudayaan Islam
IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi
Pendahuluan
SEKlLAS PANDANG TENTANG ALlRAN FILSAFAT
Dalam perjalanannya, problem yang dihadapi oleh manusia makin kompleks, sehingga membutuhkan jawaban yang kompleks pula. Jawaban yang diberikan terhadap suatu problem tidak selalu dapat tuntas, bahkan kadang-kadang hanya sebagian kecil darinya yang terjawab dengan baik. Karena latar belakang yang berbeda-beda, baik dilihat dari manusianya maupun tantangan atau problemnya, maka berakibat juga pada beragamnya bagaimana suatu jawaban diberikan.
Oleh karena itu, suatu problem yang sama, karena dilihat dari berbagai sudut dan arah, menimbulkan jawaban yang berbeda. Timbullah bermacam-macam aliran dalam filsafat.
Manusia memegang peranan yang penting dalam munculnya aliran-aliran dalam filsafat. Pada hakikatnya, karena ia mempunyai unsur kejiwaan, yaitu cipta, rasa dan karsa, maka setiap orang dapat menghasilkan filsafatnya sendiri. Namun pada sisi yang lain, kenyataan menunjukkan bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat mengemukakan pendapat serta ajaran yang bernilai filsafati. Hambatan-hambatan yang ditimbulkan oleh kata dan susunan kalimat dalam suatu bahasa seringkali memaksa seorang filsuf untuk menyusun kalimat atau rangkaian kata baru semata-mata untuk bisa membuat representasi yang mendekati apa yang terkandung dalam pikirannya. Oleh karena filsafat merupakan hasil permenungan jiwa manusia yang terdalam, maka corak (sifat, khas) dalam tiap-tiap aliran tidak terlepas dari unsur-unsur yang menyusun manusia itu sendiri.
1. Corak yang sesuai dengan unsur jiwa dan raga:
Manusia terdiri atas jiwa dan raga, karenanya filsafat ada yang menintikberatkan atau mengagungkan jiwa atau memberi tempat yang tinggi kepada jiwa atau unsur-unsur dalam. Aliran yang termasuk jenis ini antara lain adalah:
o Idealisme, yang memberi tempat tertinggi pada idea.
o Spiritualisme, yang memberi tempat tertinggi pada jiwa.
o Rasionalisme, yang memberi tempat tertinggi pada akal.
Sebaliknya, ada yang menempatkan unsur-unsur ragawi, unsur-unsur luar, sebagai yang tertinggi. Termasuk dalam aliran ini antara lain adalah:
o Materialisme, yang memberi tempat tertinggi pada materi.
o Empirisme, yang memberi tempat tertinggi pada pengalaman.
o Sensisme, yang memberi tempat tertinggi pada panca indera.
2. Corak yang sesuai dengan sifat individu dan sosial:
Manusia memiliki sifat individu dan sosial, karena itu pengejawantahan dari sifat ini terlihat pula dalam corak aliran filsafat. Ada yang mengagungkan sifat individunya. Aliran yang termausk jenis ini antara lain adalah:
o Individualisme, yang memberi tempat tertinggi pada individu.
o Liberalisme, yang mengagungkan hak mutlak setiap individu.
Sebaliknya, ada yang mengagungkan sifat sosialnya. Termasuk dalam aliran ini adalah:
o Altruisme, yang mengutamakan kepentingan orang lain semata-mata.
o Sosialisme, yang mengutamakan kepentigan sosial lebih dari kepentingan individu.
3. Corak yang menyangkut hubungan manusia dengan "Yang Mahakuasa":
Dalam hal ini, aliran di dalam filsafat ada yang bercorak teistik, ada pula yang ateistik. Misalnya, Tomisme memberi tempat yang tinggi kepada Tuhan, sedangkan Positivisme menolak teologi.
4. Corak perpaduan:
Karena ada aliran kefilsafatan yang menekankan atau mengagungkan salah satu unsur, maka terjadi jurang pemisah antara keduanya. Karena ada jurang pemisah itu, timbullah usaha untuk menghubungkan kedua sisinya yaitu dengan membuat jembatan. Beberapa contoh di antaranya adalah:
o Immanuel Kant (lahir 1724 di Koningsbergen) berusaha menjembatani antara Rasionalisme dan Empirisme.
o G.W.F. Hegel (lahir 1770 di Stuttgart) membuat jembatan antara pendapat Fichte dengan pendapat Friedrich Yoseph Schelling.
Sistem fichte adalah idealisme subjektif, sedang Schelling adalah idealisme objektif. Jembatan yang dibuat oleh Hegel adalah idealisme absolut. Inilah bentuk metode dialektik Hegel yaitu Tesis-Antitesis-Sintesis. Karena Sintesis pada hakikatnya adalah suatu Tesis Baru, maka dari padanya akan timbul Antitesis baru, demikian pula akan timbul Sintesis Baru, dan seterusnya.
Pada bagian kali ini, kami akan mengangkat satu aliran filsafat yang sangat berpengaruh di Barat pada abad kedua puluh, terutama setelah selesainya Perang Dunia Kedua. Ialah "Eksistensialisme". Pembahasan berikut ini akan menjadi model pembahasan bagi aliran-aliran filsafat lainnya; di mana kami secara rutin akan menambahkan materi-materi baru dalam bagian ini, sehingga, mudah-mudahan, seluruh aliran filsafat, utamanya aliran-aliran yang besar, mendapat kesempatan untuk disajikan ke hadapan pembaca.
I. IDEALISME
a. Pengertian Pokok.
Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa
realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang
sejenis dengan i tu.
b. Perkembangan Idealisme.
Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan
sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk
ajaran yang murni dari Plato. yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah
yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang
ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.
Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang
menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam
benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat
dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sarna sekali. Di
masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh
semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.
Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua
seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian
dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting
daripada kebendaan.
Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada
penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak
memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman Idealiasme pada masa
abad ke-18 dan 19 ketika periode Idealisme. Jerman sedang besar sekali
pengaruhnya di Eropah.
C. Tokoh-tokohnya.
1. Plato (477 -347 Sb.M)
2. B. Spinoza (1632 -1677)
3. Liebniz (1685 -1753)
4. Berkeley (1685 -1753)
5. Immanuel Kant (1724 -1881)
6. J. Fichte (1762 -1814)
7. F. Schelling (1755 -1854)
8. G. Hegel (1770 -1831)
Seluruh sejarah filsafat dari jaman Yunani sampai hari ini tersusun atas pergulatan antara dua aliran pemikiran yang persis berseberangan - materialisme dan idealisme. Di sini kita mendapati satu contoh yang sempurna tentang bagaimana kedua istilah yang dipergunakan dalam filsafat ini berbeda makna secara hakiki dengan maknanya yang dipergunakan sehari-hari.
Ketika kita merujuk seseorang sebagai "idealis", kita biasanya berpikir tentang seseorang yang memiliki ideal-ideal yang tinggi dan moralitas yang tak bercacat. Seorang materialis, sebaliknya, dipandang sebagai seorang yang tidak punya prinsip, seorang pengeruk uang, seorang individualis yang hanya memikirkan diri sendiri, dengan nafsu serakah untuk makanan dan benda-benda duniawi lain - pendeknya, seorang yang sama sekali tidak menyenangkan.
Kedua pemaknaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialisme dan idealisme di dunia filsafat. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme, yang telah lahir sebelum jamannya.
Para pengikut Pythagoras percaya bahwa hakikat dari segala hal adalah Angka (satu pandangan yang agaknya dimiliki pula oleh beberapa ahli matematika modern). Para Pythagorean ini menunjukkan penghinaan terhadap dunia material secara umum dan tubuh manusia secara khusus, yang mereka pandang sebagai penjara di mana jiwa terperangkap. Pandangan ini memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan pandangan-pandangan para biarawan abad pertengahan. Benar, mungkin saja bahwa Gereja mengambil banyak ide mereka dari kaum Pythagorean, Platonis dan Neo-Platonis. Hal ini tidaklah mengejutkan. Semua agama niscaya memiliki akar dalam pandangan idealis terhadap dunia. Perbedaannya adalah bahwa agama mempengaruhi emosi, dan mengaku menyediakan satu pemahaman yang mistis dan intuitif terhadap dunia ("Penglihatan"), sementara kebanyakan filsuf idealis berupaya menyajikan satu argumen yang logis untuk teori-teori mereka.
Pada dasarnya, bagaimanapun juga, akar dari segala bentuk idealisme adalah religius dan mistis. Kejijikan terhadap "dunia material kasar" dan pengangkatan "Ide" ke posisi yang tinggi mengalir langsung dari gejala yang telah kita lihat dalam hubungannya dengan agama. Bukanlah sebuah kebetulan jika idealisme Platonis berkembang di Athena ketika sistem perbudakan sedang berada dalam puncak kejayaannya. Kerja-kerja fisik, pada saat itu, dilihat secara harafiah sebagai sebuah penanda perbudakan. Satu-satunya kerja yang dapat dihargai adalah kerja-kerja intelektual. Secara hakiki, filsafat idealisme adalah satu produk dari pembedaan yang ekstrim antara kerja-kerja fisik dan mental yang telah hadir dari sejak menyingsingnya fajar sejarah sampai hari ini.
Sejarah filsafat Barat, walau demikian, tidak dimulai dengan idealisme melainkan dengan materialisme. Filsafat ini menunjukkan kepada kita persis kebalikan dari idealisme: bahwa dunia material, yang kita kenal dan jelajahi melalui ilmu pengetahuan, nyata adanya; bahwa satu-satunya dunia yang nyata adalah dunia material; bahwa pikiran, ide, dan perasaan adalah hasil dari materi yang terorganisir dalam cara tertentu (sistem syaraf dan otak); bahwa pikiran tidak dapat hadir dari dirinya sendiri, tapi hanya dapat timbul dari dunia objektif yang menyatakan dirinya kepada kita melalui alat-alat indera kita.
Para filsuf Yunani yang paling awal dikenal sebagai "hylozois" (dari bahasa Yunani, yang berarti "mereka yang percaya bahwa materi itu hidup"). Di sini kita mendapati sederetan panjang pahlawan yang mempelopori perkembangan pemikiran. Orang-orang Yunani menemukan bahwa dunia itu bulat, jauh sebelum Columbus. Mereka menerangkan bahwa manusia berevolusi dari ikan jauh sebelum Darwin. Mereka membuat penemuan-penemuan luar biasa dalam bidang matematik, yang tak diubah banyak selama satu setengah milenia. Mereka menemukan mekanika dan bahkan membuat satu mesin uap. Hal baru yang mengejutkan dalam cara memandang dunia ini adalah bahwa cara itu tidaklah religius. Berseberangan mutlak dengan orang-orang Mesir dan Babilonia, dari mana mereka banyak belajar, orang-orang Yunani tidaklah menyerahkan penjelasan atas gejala alam kepada para dewa dan dewi. Untuk pertama kalinya, manusia mencoba bekerjanya alam murni dengan mempelajari alam itu sendiri. Ini adalah satu dari titik balik terbesar dalam seluruh sejarah perkembangan pemikiran manusia. Ilmu pengetahuan yang sejati bermula di sini.
Aristoteles, yang terbesar dari seluruh filsuf jaman kuno, dapat dianggap seorang materialis, sekalipun ia tidaklah sekonsisten para hylozois pertama. Ia membuat serangkaian penemuan ilmiah yang merupakan basis bagi pencapaian-pencapaian besar sepanjang masa-masa Alexander.
Abad pertengahan yang menyusul runtuhnya Jaman Kuno adalah satu padang tandus di mana pemikiran ilmiah berdiri terkucil selama berabad-abad. Bukan satu kebetulan bahwa masa ini didominasi oleh Gereja. Idealisme adalah satu-satunya filsafat yang diperbolehkan, apakah itu dalam bentuk Platonis karikatural atau bahkan, lebih buruk lagi, satu penyimpangan atas filsafat Aristoteles.
Ilmu pengetahuan muncul kembali dengan jaya dalam masa Jaman Pencerahan. Di sana ia dipaksa untuk melancarkan perang yang ganas terhadap pengaruh agama (bukan hanya Katolik, melainkan juga Protestan). Banyak martir yang harus membayar harga kebebasan ilmiah dengan nyawanya sendiri. Giordano Bruno dibakar hidup-hidup di tiang bakaran. Galileo dua kali diadili oleh Pengadilan Inkuisisi, dan dipaksa dengan siksaan untuk meyangkal pandangan-pandangannya.
Kecenderungan filosofis yang dominan dalam Jaman Pencerahan adalah materialisme. Di Inggris, kecenderungan ini mengambil bentuk empirisisme, aliran pemikiran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan merupakan turunan dari perasaan inderawi. Pelopor dari aliran ini adalah Francis Bacon (1561-1626), Thomas Hobbes .(1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran materialis berkisar dari Inggris ke Perancis di mana ia memperoleh satu suntikan isi revolusioner. Di tangan Diderot, Rousseau, Holbach, dan Helvetius, filsafat menjadi satu alat untuk mengkritisi seluruh tatanan masyarakat yang ada. Para pemikir besar ini menyiapkan jalan untuk penggulingan revolusioner atas monarki feudal di tahun 1789-93.
Pandangan filosofis yang baru ini merangsang perkembangan ilmu pengetahuan, mendorong dilakukannya percobaan-percobaan dan pengamatan-pengamatan. Di abad ke-18 terjadilah satu kemajuan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, terutama di bidang mekanika. Tapi fakta ini memiliki sisi negatif, seiring dengan sisi positifnya. Materialisme lama di abad ke-18 bersifat sempit dan kaku, suatu cerminan dari perkembangan ilmu pengetahuan yang masih terbatas. Newton menyatakan batasan empirisisme dalam kalimatnya yang terkenal, "Saya tidak membuat hipotese apapun." Pandangan mekanis yang sepihak ini akhirnya terbukti fatal bagi materialisme lama. Secara paradoks, perkembangan terbesar dalam filsafat setelah 1700 justru dibuat oleh para filsuf idealis.
Di bawah pengaruh revolusi Perancis, filsuf idealis Jerman Immanuel Kant (1724-1804) meletakkan semua filsafat yang hadir sebelum jamannya ke bawah hujan badai kritisisme. Kant membuat penemuan-penemuan penting bukan hanya dalam filsafat dan logika tapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan. Hipetesisnya tentang asal-usul alam semesta yang diperkirakannya berasal dari kabut gas nebula (yang kemudian diberi basis matematik oleh Laplace) sekarang secara umum diterima sebagai kebenaran. Di bidang filsafat, adikarya Kant The Critique of Pure Reason adalah karya pertama yang menganalisa bentuk-bentuk logika yang telah tinggal tak berubah setelah bentuk-bentuk itu dirumuskan pertama kali oleh Aristoteles. Kant menunjukkan kontradiksi yang secara implisit terdapat dalam kebanyakan proposisi mendasar filsafat. Walau demikian, ia gagal menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi ini ("Antinomi"), dan akhirnya menarik kesimpulan bahwa mustahil kita mendapatkan kebenaran yang sejati tentang alam semesta. Walau kita dapat mengetahui apa yang nampak, kita tidak akan pernah tahu "apa yang ada di dalamnya".
Ide ini bukanlah sesuatu yang baru. Ide ini adalah tema yang telah berulang berkali-kali dalam sejarah filsafat, dan merupakan apa yang dikenal dengan istilah idealisme subjektif. Ini dikemukakan sebelum Kant oleh seorang uskup dan filsuf dari Irlandia, George Berkeley, dan digemakan juga oleh empirisis klasik Inggris, David Hume. Argumen dasarnya dapat diringkaskan sebagai berikut: "Saya menginterpretasi dunia melalui indera saya. Dengan demikian, semua yang saya tahu benar-benar ada adalah citra yang ditangkap oleh indera saya. Dapatkah saya, contohnya, bersumpah bahwa sebuah apel benar-benar ada? Tidak. Apa yang saya dapat katakan adalah saya melihatnya, saya merasakannya, saya menciumnya, saya mengecapnya. Dengan demikian, saya tidak dapat benar-benar menyatakan bahwa dunia material benar-benar ada." Logika dari idealisme subjektif adalah bahwa, jika saya menutup mata saya, dunia ini akan menghilang. Pada ujungnya, filsafat ini akan membawa kita pada solipisme (dari bahasa Latin "solo ipsus" - "saya sendiri"), ide bahwa hanya saya sendiri yang ada, yang lain tidak ada.
Ide ini mungkin tidak masuk nalar bagi kita, tapi mereka telah terbukti tetap bertahan. Melalui satu atau lain cara, prasangka idealisme subjektif telah merasuki bukan hanya filsafat tapi juga ilmu pengetahuan, bahkan pada sebagian besar abad ke-20. Kita akan melihat kecenderungan ini lebih lanjut di belakang.
Terobosan terbesar datang dalam dekade pertama abad ke-19 melalui George Wilhelm Hegel (1770-1831). Hegel adalah seorang filsuf idealis Jerman, seorang yang kejeniusannya menjulang setinggi langit, yang dengan efektif telah meringkas dalam tulisannya seluruh kesejarahan filsafat.
Hegel menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi "Antinomi" Kant adalah dengan menerima bahwa kontradiksi itu benar-benar ada, bukan hanya dalam pemikiran, tapi juga dalam dunia nyata. Sebagai seorang idealis objektif, Hegel tidak mempedulikan argumen kaum idealis subjektif bahwa pikiran manusia tidak mungkin memahami dunia nyata. Bentuk-bentuk pikiran harus mencerminkan dunia objektif semirip mungkin. Proses pengetahuan mengandung satu penetrasi yang semakin lama semakin dalam menerobos realitas, maju dari yang abstrak ke yang kongkrit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari yang khusus menuju yang umum.
Metode berpikir yang dialektik ini telah memainkan satu peran besar di Jaman Kuno, khususnya dalam ujar-ujar yang naif tapi brilian dari Heraclitus (c. 500 SM), tapi juga dalam pemikiran Aristoteles dan yang lain-lain. metode ini ditinggalkan di Abad Pertengahan, ketika Gereja mengubah logika formal Aristoteles menjadi dogma yang kaku dan mati. Metode ini tidak muncul-muncul lagi sampai Kant mengembalikannya ke tempat yang terhormat. Walau demikian, dalam filsafat Kant dialektika tidaklah menerima perlakuan yang cukup untuk memperkembangkannya. Tugas untuk membawa ilmu berpikir dialektik ke tingkat perkembangannya yang tertinggi jatuh ke tangan Hegel.
Kebesaran Hegel ditunjukkan oleh fakta bahwa hanya dia sendiri yang siap menantang filsafat mekanisme yang dominan pada masa itu. Filsafat dialektika Hegel mengurusi proses, bukan hal-hal yang saling terisolasi satu sama lain. Filsafat itu mengurusi segala hal dalam masa kehidupannya, bukan dalam kematiannya, dalam kesalingterhubungannya, bukan dalam kesalingterpisahannya. Ini adalah cara memandang dunia yang benar-benar modern dan ilmiah. Sesungguhnya, dalam banyak aspek, Hegel maju jauh lebih dahulu dari jamannya. Walau demikian, sekalipun ia memiliki pandangan yang sering gemilang, filsafat Hegel pada akhirnya tidaklah cukup memuaskan. Kekurangannya yang utama adalah sudut pandangnya yang idealis, yang menghalanginya dalam menerapkan metode dialektika pada dunia nyata dengan cara yang ilmiah dan konsisten. Bukannya mendapat dunia material, kita malah mendapat dunia Ide Absolut, di mana benda-benda nyata, proses dan manusia digantikan oleh bayangan-bayangan tak berbentuk. Mengutip Frederick Engels, dialektika Hegelian adalah filsafat yang paling abortif [gugur sebelum waktunya, pen.] sepanjang sejarah filsafat. Ide-ide yang tepat di sini terlihat berdiri di atas kepala mereka sendiri. Untuk menempatkan dialektika di atas pondasi yang kukuh, sangatlah penting untuk memutarbalikkan filsafat Hegel, untuk mengubah dialektika idealis menjadi materialisme dialektik. Yang ini adalah pencapaian besar dari Karl Marx dan Frederick Engels. Studi kita dimulai dengan satu ulasan ringkas tentang hukum-hukum dasar materialisme dialektik yang mereka kemukakan.
Kesimpulan
Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa
realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang
sejenis dengan itu.
Dengan tokoh terkenal yaitu Plato , Plato ( Greek, Plátōn) (sekitar 427 S.M. - sekitar 347 S.M.) ahli falsafah Yunani Klasik yang sangat berpengaruh, murid pada Socrates dan guru pada Aristoteles. Hasil kerjanya yang paling mashyur adalah Republik (dalam bahasa Yunani: Politeia, "negeri") yang dia menguraikan garis besar pandangannya pada keadaan "ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama.
Sumbangan Plato yang terpenting adalah ilmunya mengenai ide. Dunia fana ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Di dunia ideal semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang fizikal yang boleh disentuh dan dlihat, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelek. Sebagai contoh, konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".
Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpamaan tentang orang di gua.
Wednesday, January 31, 2007
Ciri - ciri Orang Bertakwa
1. Ciri – Ciri Orang Bertakwa
Allah berfirman dalam Al – Qur’an surah Ali – Imran (3) : 133 yang berbunyi “ Wasaari’u ilaa maghfirati mirrabbikum wajannatin ‘ardhuhas samaawati wal ardhu u’iddat lil muttaqiin “ . Ini merupakan panggilan Al – Qur’an kepada orang – orang yang beriman supaya kita semua bergegas atau mempercepat langkah kita menuju maghfirah atau ampunan Ilahi serta syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang – orang yang bertakwa .
Kalau menilik ayat ini , sampai berapa miliarpun umat manusia sampai akhir zaman nanti , surga Allah masih lebih luas ketimbang manusia yang sudah ada sehingga pasti setiap manusia kebagian tempat. Tidak pernah ada kekhawatiran bahwa nanti seseorang yang beriman dan beramal shalih dibumi ini lantas besok di akhirat tidak kebagian tempat.
Sementara , neraka jahannam pun itu juga luas sekali , dalam Al – Qur’an Allah bertanya , “ Halimtala’ti , wahai neraka jahannam , apakah engkau sudah penuh ?” Kemudia neraka jahannam mengatakan , “ Hal mim mazid , Ya Allah , apakah masih ada tambahan lagi untuk kami ini ? “ Jadi , masih luas sekali neraka jahannam itu sehingga tidak pernah penuh.
Ini satu hal yang perlu kita camkan bahwa memang kita , orang awam , disuruh mengejar maghfirah atau ampunan Ilahi dan surga jannatun na’iim , yang amat luas , yang memang disediakan bagi orang – orang yang bertakwa.
a. Definisi Takwa
Definisi orang bertakwa sesuai surah Ali – Imran (3) : 134 itu yang mana berbunyi “ Alladziina yunfiquuna fis – sarraa’i wadhdharraa” , orang yang menunaikan infak . Yaitu mengeluarkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah sekian persen , lebih banyak lebih bagus , baik dalam keadaan lapang atau senang maupun dalam keadaan susah atau terpaksa.
Jadi , rupanya sangat dianjurkan atau didorong oleh agama islam untuk selalu menjadi orang yang dermawan , selalu membayar infak ,pada kondisi apapun . Bukan hanya pada saat rezeki kita banyak kita membayar zakat , melainkan pada waktu dharraa’ , agak pas – pasan , bahkan mungkin agak sempit , itupun kita harus tetap mengambil sekian persen dari rezeki kita untuk kesejahteraan bersama.
Ini satu hal yang perlu kita garis bawahi , kalau infak sebagai bagian dari takwa sudah semakin memudar , maka kita tentunya akan melihat bahwa gerakan – gerakan amal shaleh kita juga akan memudar . Tidak bisa tidak . Karena , kalau kita ingin membuka sifat takwa yang lebih luas , maka kita akan menemukan dalam surat Al – Baqarah (2) : 177 yang artinya “Bukanlah yang dinamakan kebajikan itu sekadar menghadapkan wajahmu ketimur dan kebarat . Sesungguhnya yang dinamakan kebajikan itu itu adalah beriman kepada Allah , kepada Rasul – Nya , hari akhir , kitab suci , para malaikat , para nabi . Kebajikan ( orang yang bertakwa ) adalah memberikan sebagian dari harta benda yang dicintainya kepada anak yatim , fakir miskin , orang –orang yang papa . Kepada mereka yang putus perbekalannya ditengah jalan , musafir , musafir yang berjalan untuk mengejar suatu cita – cita yang kemudian ditengah jalan kehabisan bekal juga perlu disantuni . Kemudian mereka yang meminta – minta dan mereka yang berada dalam belenggu eksploitasi , mendirikan shalat , dan menunaikan zakat , dan orang – orang yang sabar dalam kesempitan , penderitaan , dan dalam peperangan . Mereka itulah orang – orang yang benar dan mereka itulah orang – orang yang bertakwa “
Ayat ini cukup panjang yang mendemonstrasikan gambaran yang utuh mengenai sifat – sifat takwa itu . Ada dimensi iman , ada dimensi amal shalih , dan macam – macam
b. Dua Sisi Takwa
Takwa itu memiliki dua sisi . Yang satu sisi Do dan yang satu Don’t . Yang Do atau kerjakan , ya melakukan Shalat , infak , zakat , amal shaleh , dan macam – macam kebaikan. Sedangkan yang Don’t atau jangan sesungguhnya gampang sekali , yaitu jang terjebak dalam hawa nafsumu sendiri.
Surat Ali – Imran (3) : 14 yang memiliki makna “ Dijadikan Indah pada ( pandangan ) manusia kecintaan kepada apa – apa yang diingini , yaitu : wanita – wanita , anak – anak , harta yang banyak dari jenis emas , perak , kuda pilihan , binatang – binatang ternak dan sawah ladang , itulah kesenangan hidup didunia ; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik ( surga ).
Dari ayat ini sudah jelas sekali bahwa sisi yang Don’t atau jangan melakukan maksudnya jangan sampai kita terjebak dalam hawa nafsu kita. Hawa nafsu mengajak kita kemana saja , lihatlah surat Ali – Imran diatas.
Nafsu boleh saja , tetapi terkendalikan lewat saluran yang benar . Mengejar harta boleh , tetapi kemudian dimanfaatkan untuk ibadah. Mengejar oangkat boleh , tetapi untuk menganyomi atau melindungi , dan sebagainya.
Maka dari itu , kita harus selalu mengasah takwa kita dalam kehidupan pribadi , keluarga , social kemasyarakatan , bertetangga , dan bernegara dengan mengingat Do dan Don’t tadi sebaik – baiknya. Ini supaya kita betul – betul memiliki suatu kehidupan yang seperti kata Nabi , yaitu seorang mukmin yang bagus , yang masa sekarang ini lebih bagus dari masa lalunya , dan masa datangnya akan lebih bagus lagi dari pada masa kini atau sekarang.
2. Cara Baru Memahami Islam
Kalau kita mendengar istilah tajdidul islam atau pembaruan Islam , maka sudah tentu bukan agama Islam lantas diubah , dimodifikasi , ditambah dan dikurangi . melainkan melakukan penyegaran kembali , yaitu penyegaran pemahaman dalam cara kita menyikapi Al – Qur’an dan Sunnah .
Akan tetapi , sekali – kali jangan diartikan bahwa pembaruan dalam Islam merupakan modifikasi atau perubahan terhadap agama itu sendiri. Jadi , cara kita memahami , cara kita berkerja , memandang persoalan , dan lain – lain yang harus di – tajdid , di – reform ,diperbarui.
Perubahan tersebut pertama adalah menyangkut akidah , nah perubahan ini bukan berarti mengubah mengubah akidah ummat atau akidah kita, melainkan dalam arti tanzhiful ‘aqidah .Tnazhifu arinya furifikasi , pembersihan , dan pemurnian. Jadi hal – hal yang mengotori akidah kita bersihkan , kita campakkan sejauh – jauhnya , supaya akidah kita betul – betul seperti yang dikehendaki Al-qur’an dan Assunnah.
Kedua yaitu mengenai teologi islam , teologi bukan seperti ilmu ushuludian gaya lama , dalam arti membahas sifat Allah yang dua puluh , kemudian mempersoalkan secara bertele – tele , kalau seorang muslim sampai melakukan dosa besar masih disebut muslim atau tidak .Kemudian Al – Qur’an itu makhluk atau bukan , Al – Qur’an itu Azali atau non azali , dan lain lain. Hal – hal seperti itu jelas akan kita teruskan sebagai penajaman teologi islam . tetapi lebih dari itu , saat ini kalangan anak muda atau generasi muda Islam memerlukan perspektif yang lain , yaitu menginginkan suatu teologi yang relevan dengan masalah – masalah social yang kongkret ,
Artinya , teologi bukan lagi berbicara mengenai ketuhanan saja , melainkan teologi lebih dari itu , yaitu juga bicara tentang hubungan anatar ketuhanan dan kemanusiaan.
3. Sekularisme : Proyek Menjauhkan Agama
Sekularisme adalah suatu ideology atau paham yang mengajarkan bahwa agama merupakan masalah subjektif setipa individu yang hanya bermanfaat untuk memenuhi tuntutan – tuntutan kejiwaan. Disamping itu paham ini hanya beranggapan agama hanya berhubungan dengan masalah privat , dalam arti masalah – masalah pribadi , oleh karena itu , urusana kemasyarakatan , seperti politik , ekonomi , kebudayaan , dan pengembangan ilmu dan teknologi modern , dalam pandangan sekularisme tidak dapat dan tak perlu dikaitkan dengan agama.
Sekularisme melihat kehidupan secara dikotomis . Mereka selalu mempertentangk antara kehidupan duniawi dan ukhrawi , imanen dan transcendental , profane dan sacral , jasmani dan ruhani , sementara dan abadi.. Cara berpikiran dkikotomis ini menciptakan manusia – manusia yang berkepribadian pecah , split personality . Dalam pandangan Islam sekularisme jelas tertolak karena Islam tidak memisahkan kehidupan manusia secara dikotomis. Islam melihat kehidupan itu Utuh , satu , bulat. Sehingga , kehidupan ukhrawi kita merupakan kelanjutan dari seluruh performance , prestasi hidup kita didunia ini.
Hubungan Sesama Manusia Dalam Islam
1. Islam Agama Keadilan
Sesungguhnya kalau kita dengar kata tauhid didalam agama Islam itu berarti tauhidullah , menunggalakn atau mengesakan Allah SWT.dalam ushuludin tauhid trbagi menjadi duakategori rubbubiyah dan tauhid ulluhiyah
Tauhd Rubbubiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah taala di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya:
- Pencipta seluruh makhluk.
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar: 62)
- Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6)
- Penguasa dan pengatur segala urusan alam, yang meninggikan lagi menghinakan, menghidupkan lagi mematikan, memperjalankan malam dan siang dan yang maha kuasa atas segala sesuatu.
“Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki. Di tangan engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukan malam kedalam siang dan engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Ali Imron: 26 -27).
Dengan demikian Tauhid Rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal yaitu:
1. Beriman kepada perbuatan–perbuatan Allah secara umum seperti mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan lain-lain.
2. Beriman kepada qodho dan qodar Allah.
3. Beriman kepada keesaan Zat-Nya.
Sedangkan tauhid Ulluhiyah adalah mengesakan Allah dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqorub dan ibadah seperti berdoá, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakal, bertaubat, dan lain-lain.
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh: 163)
“Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (QS. An Nahl: 51)
“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada sesuatu dalilpun baginya tentang itu maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir tiada beruntung.” (QS. Al Mu’minun: 117).
Tauhid inilah yang dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rububiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah. Kemurnian Tauhid Uluhiyah akan didapatkan dengan mewujudkan dua hal mendasar yaitu:
1. Seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah bukan kepada yang lainnya.
2. Dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
Kedua macam tauhid di atas memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan, dimana keimanan seseorang kepada Allah tidak akan utuh sehingga terkumpul pada dirinya ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid Rububiyah seseorang tak berguna sehingga dia bertauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah, serta Tauhid Uluhiyah seseorang tak lurus sehingga dia bertauhid asma dan sifat. Singkatnya, mengenal Allah tak berguna sampai seorang hamba beribadah hanya kepada-Nya. Dan beribadah kepada Allah tidak akan terwujud tanpa mengenal Allah.
Allah berfirman dalam Al – Qur’an surah Ali – Imran (3) : 133 yang berbunyi “ Wasaari’u ilaa maghfirati mirrabbikum wajannatin ‘ardhuhas samaawati wal ardhu u’iddat lil muttaqiin “ . Ini merupakan panggilan Al – Qur’an kepada orang – orang yang beriman supaya kita semua bergegas atau mempercepat langkah kita menuju maghfirah atau ampunan Ilahi serta syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang – orang yang bertakwa .
Kalau menilik ayat ini , sampai berapa miliarpun umat manusia sampai akhir zaman nanti , surga Allah masih lebih luas ketimbang manusia yang sudah ada sehingga pasti setiap manusia kebagian tempat. Tidak pernah ada kekhawatiran bahwa nanti seseorang yang beriman dan beramal shalih dibumi ini lantas besok di akhirat tidak kebagian tempat.
Sementara , neraka jahannam pun itu juga luas sekali , dalam Al – Qur’an Allah bertanya , “ Halimtala’ti , wahai neraka jahannam , apakah engkau sudah penuh ?” Kemudia neraka jahannam mengatakan , “ Hal mim mazid , Ya Allah , apakah masih ada tambahan lagi untuk kami ini ? “ Jadi , masih luas sekali neraka jahannam itu sehingga tidak pernah penuh.
Ini satu hal yang perlu kita camkan bahwa memang kita , orang awam , disuruh mengejar maghfirah atau ampunan Ilahi dan surga jannatun na’iim , yang amat luas , yang memang disediakan bagi orang – orang yang bertakwa.
a. Definisi Takwa
Definisi orang bertakwa sesuai surah Ali – Imran (3) : 134 itu yang mana berbunyi “ Alladziina yunfiquuna fis – sarraa’i wadhdharraa” , orang yang menunaikan infak . Yaitu mengeluarkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah sekian persen , lebih banyak lebih bagus , baik dalam keadaan lapang atau senang maupun dalam keadaan susah atau terpaksa.
Jadi , rupanya sangat dianjurkan atau didorong oleh agama islam untuk selalu menjadi orang yang dermawan , selalu membayar infak ,pada kondisi apapun . Bukan hanya pada saat rezeki kita banyak kita membayar zakat , melainkan pada waktu dharraa’ , agak pas – pasan , bahkan mungkin agak sempit , itupun kita harus tetap mengambil sekian persen dari rezeki kita untuk kesejahteraan bersama.
Ini satu hal yang perlu kita garis bawahi , kalau infak sebagai bagian dari takwa sudah semakin memudar , maka kita tentunya akan melihat bahwa gerakan – gerakan amal shaleh kita juga akan memudar . Tidak bisa tidak . Karena , kalau kita ingin membuka sifat takwa yang lebih luas , maka kita akan menemukan dalam surat Al – Baqarah (2) : 177 yang artinya “Bukanlah yang dinamakan kebajikan itu sekadar menghadapkan wajahmu ketimur dan kebarat . Sesungguhnya yang dinamakan kebajikan itu itu adalah beriman kepada Allah , kepada Rasul – Nya , hari akhir , kitab suci , para malaikat , para nabi . Kebajikan ( orang yang bertakwa ) adalah memberikan sebagian dari harta benda yang dicintainya kepada anak yatim , fakir miskin , orang –orang yang papa . Kepada mereka yang putus perbekalannya ditengah jalan , musafir , musafir yang berjalan untuk mengejar suatu cita – cita yang kemudian ditengah jalan kehabisan bekal juga perlu disantuni . Kemudian mereka yang meminta – minta dan mereka yang berada dalam belenggu eksploitasi , mendirikan shalat , dan menunaikan zakat , dan orang – orang yang sabar dalam kesempitan , penderitaan , dan dalam peperangan . Mereka itulah orang – orang yang benar dan mereka itulah orang – orang yang bertakwa “
Ayat ini cukup panjang yang mendemonstrasikan gambaran yang utuh mengenai sifat – sifat takwa itu . Ada dimensi iman , ada dimensi amal shalih , dan macam – macam
b. Dua Sisi Takwa
Takwa itu memiliki dua sisi . Yang satu sisi Do dan yang satu Don’t . Yang Do atau kerjakan , ya melakukan Shalat , infak , zakat , amal shaleh , dan macam – macam kebaikan. Sedangkan yang Don’t atau jangan sesungguhnya gampang sekali , yaitu jang terjebak dalam hawa nafsumu sendiri.
Surat Ali – Imran (3) : 14 yang memiliki makna “ Dijadikan Indah pada ( pandangan ) manusia kecintaan kepada apa – apa yang diingini , yaitu : wanita – wanita , anak – anak , harta yang banyak dari jenis emas , perak , kuda pilihan , binatang – binatang ternak dan sawah ladang , itulah kesenangan hidup didunia ; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik ( surga ).
Dari ayat ini sudah jelas sekali bahwa sisi yang Don’t atau jangan melakukan maksudnya jangan sampai kita terjebak dalam hawa nafsu kita. Hawa nafsu mengajak kita kemana saja , lihatlah surat Ali – Imran diatas.
Nafsu boleh saja , tetapi terkendalikan lewat saluran yang benar . Mengejar harta boleh , tetapi kemudian dimanfaatkan untuk ibadah. Mengejar oangkat boleh , tetapi untuk menganyomi atau melindungi , dan sebagainya.
Maka dari itu , kita harus selalu mengasah takwa kita dalam kehidupan pribadi , keluarga , social kemasyarakatan , bertetangga , dan bernegara dengan mengingat Do dan Don’t tadi sebaik – baiknya. Ini supaya kita betul – betul memiliki suatu kehidupan yang seperti kata Nabi , yaitu seorang mukmin yang bagus , yang masa sekarang ini lebih bagus dari masa lalunya , dan masa datangnya akan lebih bagus lagi dari pada masa kini atau sekarang.
2. Cara Baru Memahami Islam
Kalau kita mendengar istilah tajdidul islam atau pembaruan Islam , maka sudah tentu bukan agama Islam lantas diubah , dimodifikasi , ditambah dan dikurangi . melainkan melakukan penyegaran kembali , yaitu penyegaran pemahaman dalam cara kita menyikapi Al – Qur’an dan Sunnah .
Akan tetapi , sekali – kali jangan diartikan bahwa pembaruan dalam Islam merupakan modifikasi atau perubahan terhadap agama itu sendiri. Jadi , cara kita memahami , cara kita berkerja , memandang persoalan , dan lain – lain yang harus di – tajdid , di – reform ,diperbarui.
Perubahan tersebut pertama adalah menyangkut akidah , nah perubahan ini bukan berarti mengubah mengubah akidah ummat atau akidah kita, melainkan dalam arti tanzhiful ‘aqidah .Tnazhifu arinya furifikasi , pembersihan , dan pemurnian. Jadi hal – hal yang mengotori akidah kita bersihkan , kita campakkan sejauh – jauhnya , supaya akidah kita betul – betul seperti yang dikehendaki Al-qur’an dan Assunnah.
Kedua yaitu mengenai teologi islam , teologi bukan seperti ilmu ushuludian gaya lama , dalam arti membahas sifat Allah yang dua puluh , kemudian mempersoalkan secara bertele – tele , kalau seorang muslim sampai melakukan dosa besar masih disebut muslim atau tidak .Kemudian Al – Qur’an itu makhluk atau bukan , Al – Qur’an itu Azali atau non azali , dan lain lain. Hal – hal seperti itu jelas akan kita teruskan sebagai penajaman teologi islam . tetapi lebih dari itu , saat ini kalangan anak muda atau generasi muda Islam memerlukan perspektif yang lain , yaitu menginginkan suatu teologi yang relevan dengan masalah – masalah social yang kongkret ,
Artinya , teologi bukan lagi berbicara mengenai ketuhanan saja , melainkan teologi lebih dari itu , yaitu juga bicara tentang hubungan anatar ketuhanan dan kemanusiaan.
3. Sekularisme : Proyek Menjauhkan Agama
Sekularisme adalah suatu ideology atau paham yang mengajarkan bahwa agama merupakan masalah subjektif setipa individu yang hanya bermanfaat untuk memenuhi tuntutan – tuntutan kejiwaan. Disamping itu paham ini hanya beranggapan agama hanya berhubungan dengan masalah privat , dalam arti masalah – masalah pribadi , oleh karena itu , urusana kemasyarakatan , seperti politik , ekonomi , kebudayaan , dan pengembangan ilmu dan teknologi modern , dalam pandangan sekularisme tidak dapat dan tak perlu dikaitkan dengan agama.
Sekularisme melihat kehidupan secara dikotomis . Mereka selalu mempertentangk antara kehidupan duniawi dan ukhrawi , imanen dan transcendental , profane dan sacral , jasmani dan ruhani , sementara dan abadi.. Cara berpikiran dkikotomis ini menciptakan manusia – manusia yang berkepribadian pecah , split personality . Dalam pandangan Islam sekularisme jelas tertolak karena Islam tidak memisahkan kehidupan manusia secara dikotomis. Islam melihat kehidupan itu Utuh , satu , bulat. Sehingga , kehidupan ukhrawi kita merupakan kelanjutan dari seluruh performance , prestasi hidup kita didunia ini.
Hubungan Sesama Manusia Dalam Islam
1. Islam Agama Keadilan
Sesungguhnya kalau kita dengar kata tauhid didalam agama Islam itu berarti tauhidullah , menunggalakn atau mengesakan Allah SWT.dalam ushuludin tauhid trbagi menjadi duakategori rubbubiyah dan tauhid ulluhiyah
Tauhd Rubbubiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah taala di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya:
- Pencipta seluruh makhluk.
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar: 62)
- Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6)
- Penguasa dan pengatur segala urusan alam, yang meninggikan lagi menghinakan, menghidupkan lagi mematikan, memperjalankan malam dan siang dan yang maha kuasa atas segala sesuatu.
“Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki. Di tangan engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukan malam kedalam siang dan engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Ali Imron: 26 -27).
Dengan demikian Tauhid Rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal yaitu:
1. Beriman kepada perbuatan–perbuatan Allah secara umum seperti mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan lain-lain.
2. Beriman kepada qodho dan qodar Allah.
3. Beriman kepada keesaan Zat-Nya.
Sedangkan tauhid Ulluhiyah adalah mengesakan Allah dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqorub dan ibadah seperti berdoá, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakal, bertaubat, dan lain-lain.
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh: 163)
“Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (QS. An Nahl: 51)
“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada sesuatu dalilpun baginya tentang itu maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir tiada beruntung.” (QS. Al Mu’minun: 117).
Tauhid inilah yang dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rububiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah. Kemurnian Tauhid Uluhiyah akan didapatkan dengan mewujudkan dua hal mendasar yaitu:
1. Seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah bukan kepada yang lainnya.
2. Dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
Kedua macam tauhid di atas memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan, dimana keimanan seseorang kepada Allah tidak akan utuh sehingga terkumpul pada dirinya ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid Rububiyah seseorang tak berguna sehingga dia bertauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah, serta Tauhid Uluhiyah seseorang tak lurus sehingga dia bertauhid asma dan sifat. Singkatnya, mengenal Allah tak berguna sampai seorang hamba beribadah hanya kepada-Nya. Dan beribadah kepada Allah tidak akan terwujud tanpa mengenal Allah.
Subscribe to:
Comments (Atom)