Wednesday, January 31, 2007

Ciri - ciri Orang Bertakwa

1. Ciri – Ciri Orang Bertakwa

Allah berfirman dalam Al – Qur’an surah Ali – Imran (3) : 133 yang berbunyi “ Wasaari’u ilaa maghfirati mirrabbikum wajannatin ‘ardhuhas samaawati wal ardhu u’iddat lil muttaqiin “ . Ini merupakan panggilan Al – Qur’an kepada orang – orang yang beriman supaya kita semua bergegas atau mempercepat langkah kita menuju maghfirah atau ampunan Ilahi serta syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang – orang yang bertakwa .

Kalau menilik ayat ini , sampai berapa miliarpun umat manusia sampai akhir zaman nanti , surga Allah masih lebih luas ketimbang manusia yang sudah ada sehingga pasti setiap manusia kebagian tempat. Tidak pernah ada kekhawatiran bahwa nanti seseorang yang beriman dan beramal shalih dibumi ini lantas besok di akhirat tidak kebagian tempat.

Sementara , neraka jahannam pun itu juga luas sekali , dalam Al – Qur’an Allah bertanya , “ Halimtala’ti , wahai neraka jahannam , apakah engkau sudah penuh ?” Kemudia neraka jahannam mengatakan , “ Hal mim mazid , Ya Allah , apakah masih ada tambahan lagi untuk kami ini ? “ Jadi , masih luas sekali neraka jahannam itu sehingga tidak pernah penuh.

Ini satu hal yang perlu kita camkan bahwa memang kita , orang awam , disuruh mengejar maghfirah atau ampunan Ilahi dan surga jannatun na’iim , yang amat luas , yang memang disediakan bagi orang – orang yang bertakwa.

a. Definisi Takwa

Definisi orang bertakwa sesuai surah Ali – Imran (3) : 134 itu yang mana berbunyi “ Alladziina yunfiquuna fis – sarraa’i wadhdharraa” , orang yang menunaikan infak . Yaitu mengeluarkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah sekian persen , lebih banyak lebih bagus , baik dalam keadaan lapang atau senang maupun dalam keadaan susah atau terpaksa.

Jadi , rupanya sangat dianjurkan atau didorong oleh agama islam untuk selalu menjadi orang yang dermawan , selalu membayar infak ,pada kondisi apapun . Bukan hanya pada saat rezeki kita banyak kita membayar zakat , melainkan pada waktu dharraa’ , agak pas – pasan , bahkan mungkin agak sempit , itupun kita harus tetap mengambil sekian persen dari rezeki kita untuk kesejahteraan bersama.

Ini satu hal yang perlu kita garis bawahi , kalau infak sebagai bagian dari takwa sudah semakin memudar , maka kita tentunya akan melihat bahwa gerakan – gerakan amal shaleh kita juga akan memudar . Tidak bisa tidak . Karena , kalau kita ingin membuka sifat takwa yang lebih luas , maka kita akan menemukan dalam surat Al – Baqarah (2) : 177 yang artinya “Bukanlah yang dinamakan kebajikan itu sekadar menghadapkan wajahmu ketimur dan kebarat . Sesungguhnya yang dinamakan kebajikan itu itu adalah beriman kepada Allah , kepada Rasul – Nya , hari akhir , kitab suci , para malaikat , para nabi . Kebajikan ( orang yang bertakwa ) adalah memberikan sebagian dari harta benda yang dicintainya kepada anak yatim , fakir miskin , orang –orang yang papa . Kepada mereka yang putus perbekalannya ditengah jalan , musafir , musafir yang berjalan untuk mengejar suatu cita – cita yang kemudian ditengah jalan kehabisan bekal juga perlu disantuni . Kemudian mereka yang meminta – minta dan mereka yang berada dalam belenggu eksploitasi , mendirikan shalat , dan menunaikan zakat , dan orang – orang yang sabar dalam kesempitan , penderitaan , dan dalam peperangan . Mereka itulah orang – orang yang benar dan mereka itulah orang – orang yang bertakwa “

Ayat ini cukup panjang yang mendemonstrasikan gambaran yang utuh mengenai sifat – sifat takwa itu . Ada dimensi iman , ada dimensi amal shalih , dan macam – macam


b. Dua Sisi Takwa

Takwa itu memiliki dua sisi . Yang satu sisi Do dan yang satu Don’t . Yang Do atau kerjakan , ya melakukan Shalat , infak , zakat , amal shaleh , dan macam – macam kebaikan. Sedangkan yang Don’t atau jangan sesungguhnya gampang sekali , yaitu jang terjebak dalam hawa nafsumu sendiri.

Surat Ali – Imran (3) : 14 yang memiliki makna “ Dijadikan Indah pada ( pandangan ) manusia kecintaan kepada apa – apa yang diingini , yaitu : wanita – wanita , anak – anak , harta yang banyak dari jenis emas , perak , kuda pilihan , binatang – binatang ternak dan sawah ladang , itulah kesenangan hidup didunia ; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik ( surga ).

Dari ayat ini sudah jelas sekali bahwa sisi yang Don’t atau jangan melakukan maksudnya jangan sampai kita terjebak dalam hawa nafsu kita. Hawa nafsu mengajak kita kemana saja , lihatlah surat Ali – Imran diatas.

Nafsu boleh saja , tetapi terkendalikan lewat saluran yang benar . Mengejar harta boleh , tetapi kemudian dimanfaatkan untuk ibadah. Mengejar oangkat boleh , tetapi untuk menganyomi atau melindungi , dan sebagainya.
Maka dari itu , kita harus selalu mengasah takwa kita dalam kehidupan pribadi , keluarga , social kemasyarakatan , bertetangga , dan bernegara dengan mengingat Do dan Don’t tadi sebaik – baiknya. Ini supaya kita betul – betul memiliki suatu kehidupan yang seperti kata Nabi , yaitu seorang mukmin yang bagus , yang masa sekarang ini lebih bagus dari masa lalunya , dan masa datangnya akan lebih bagus lagi dari pada masa kini atau sekarang.


2. Cara Baru Memahami Islam

Kalau kita mendengar istilah tajdidul islam atau pembaruan Islam , maka sudah tentu bukan agama Islam lantas diubah , dimodifikasi , ditambah dan dikurangi . melainkan melakukan penyegaran kembali , yaitu penyegaran pemahaman dalam cara kita menyikapi Al – Qur’an dan Sunnah .
Akan tetapi , sekali – kali jangan diartikan bahwa pembaruan dalam Islam merupakan modifikasi atau perubahan terhadap agama itu sendiri. Jadi , cara kita memahami , cara kita berkerja , memandang persoalan , dan lain – lain yang harus di – tajdid , di – reform ,diperbarui.

Perubahan tersebut pertama adalah menyangkut akidah , nah perubahan ini bukan berarti mengubah mengubah akidah ummat atau akidah kita, melainkan dalam arti tanzhiful ‘aqidah .Tnazhifu arinya furifikasi , pembersihan , dan pemurnian. Jadi hal – hal yang mengotori akidah kita bersihkan , kita campakkan sejauh – jauhnya , supaya akidah kita betul – betul seperti yang dikehendaki Al-qur’an dan Assunnah.

Kedua yaitu mengenai teologi islam , teologi bukan seperti ilmu ushuludian gaya lama , dalam arti membahas sifat Allah yang dua puluh , kemudian mempersoalkan secara bertele – tele , kalau seorang muslim sampai melakukan dosa besar masih disebut muslim atau tidak .Kemudian Al – Qur’an itu makhluk atau bukan , Al – Qur’an itu Azali atau non azali , dan lain lain. Hal – hal seperti itu jelas akan kita teruskan sebagai penajaman teologi islam . tetapi lebih dari itu , saat ini kalangan anak muda atau generasi muda Islam memerlukan perspektif yang lain , yaitu menginginkan suatu teologi yang relevan dengan masalah – masalah social yang kongkret ,

Artinya , teologi bukan lagi berbicara mengenai ketuhanan saja , melainkan teologi lebih dari itu , yaitu juga bicara tentang hubungan anatar ketuhanan dan kemanusiaan.

3. Sekularisme : Proyek Menjauhkan Agama

Sekularisme adalah suatu ideology atau paham yang mengajarkan bahwa agama merupakan masalah subjektif setipa individu yang hanya bermanfaat untuk memenuhi tuntutan – tuntutan kejiwaan. Disamping itu paham ini hanya beranggapan agama hanya berhubungan dengan masalah privat , dalam arti masalah – masalah pribadi , oleh karena itu , urusana kemasyarakatan , seperti politik , ekonomi , kebudayaan , dan pengembangan ilmu dan teknologi modern , dalam pandangan sekularisme tidak dapat dan tak perlu dikaitkan dengan agama.

Sekularisme melihat kehidupan secara dikotomis . Mereka selalu mempertentangk antara kehidupan duniawi dan ukhrawi , imanen dan transcendental , profane dan sacral , jasmani dan ruhani , sementara dan abadi.. Cara berpikiran dkikotomis ini menciptakan manusia – manusia yang berkepribadian pecah , split personality . Dalam pandangan Islam sekularisme jelas tertolak karena Islam tidak memisahkan kehidupan manusia secara dikotomis. Islam melihat kehidupan itu Utuh , satu , bulat. Sehingga , kehidupan ukhrawi kita merupakan kelanjutan dari seluruh performance , prestasi hidup kita didunia ini.

Hubungan Sesama Manusia Dalam Islam

1. Islam Agama Keadilan

Sesungguhnya kalau kita dengar kata tauhid didalam agama Islam itu berarti tauhidullah , menunggalakn atau mengesakan Allah SWT.dalam ushuludin tauhid trbagi menjadi duakategori rubbubiyah dan tauhid ulluhiyah

Tauhd Rubbubiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah taala di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya:

- Pencipta seluruh makhluk.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar: 62)

- Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6)

- Penguasa dan pengatur segala urusan alam, yang meninggikan lagi menghinakan, menghidupkan lagi mematikan, memperjalankan malam dan siang dan yang maha kuasa atas segala sesuatu.

“Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki. Di tangan engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukan malam kedalam siang dan engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Ali Imron: 26 -27).


Dengan demikian Tauhid Rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal yaitu:
1. Beriman kepada perbuatan–perbuatan Allah secara umum seperti mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan lain-lain.
2. Beriman kepada qodho dan qodar Allah.
3. Beriman kepada keesaan Zat-Nya.
Sedangkan tauhid Ulluhiyah adalah mengesakan Allah dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqorub dan ibadah seperti berdoá, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakal, bertaubat, dan lain-lain.
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh: 163)
“Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (QS. An Nahl: 51)

“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada sesuatu dalilpun baginya tentang itu maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir tiada beruntung.” (QS. Al Mu’minun: 117).


Tauhid inilah yang dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rububiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah. Kemurnian Tauhid Uluhiyah akan didapatkan dengan mewujudkan dua hal mendasar yaitu:
1. Seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah bukan kepada yang lainnya.
2. Dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
Kedua macam tauhid di atas memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan, dimana keimanan seseorang kepada Allah tidak akan utuh sehingga terkumpul pada dirinya ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid Rububiyah seseorang tak berguna sehingga dia bertauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah, serta Tauhid Uluhiyah seseorang tak lurus sehingga dia bertauhid asma dan sifat. Singkatnya, mengenal Allah tak berguna sampai seorang hamba beribadah hanya kepada-Nya. Dan beribadah kepada Allah tidak akan terwujud tanpa mengenal Allah.

No comments: