Sunday, September 23, 2007

Pendahuluan

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT akhirnya makalah ini dapat kami selesaikan dengan cukup baik dengan beberapa keterbatasan sumber pengetahuan yang kami dapat mengenai paham Mu’tazilah ini.

Adapun kami akan memaparkan beberapa menganai paham yang pertama kali muncul di Basra ,Irak ini .

Sejarah Kemunculan

Sejarah munculnya mu’tazilah kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah ( IraQ ), pada abad ke – 2 Hijriyah , antara tahun 105 – 110 H , tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifa Hisyam Bin Abdul Malik.

Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal . nah kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha' berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru , dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya.

Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah )(1).

Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: “Akal lebih didahulukan daripada syariat (Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’, pen) dan akal-lah sebagai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan akal –menurut persangkaan mereka– maka sungguh syariat tersebut harus dibuang atau ditakwil(2).
(Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya ketika terjadi perselisihan. Namun kenyataannya Allah perintahkan kita untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-Nisa: 59. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah tidak akan mengutus para Rasul pada tiap-tiap umat dalam rangka membimbing mereka menuju jalan yang benar sebagaimana yang terdapat dalam An-Nahl: 36. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka akal siapakah yang dijadikan sebagai tolok ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain yang menunjukkan batilnya kaidah ini.

Mengapa disebut Mu’tazilah ?

Mu’tazilah, secara etimologis bermakna: orang-orang yang memisahkan diri. Sebutan ini mempunyai suatu kronologi yang tidak bisa dipisahkan dengan sosok Al-Hasan Al-Bashri, salah seorang imam di kalangan tabi’in.

Asy-Syihristani t berkata: (Suatu hari) datanglah seorang laki-laki kepada Al-Hasan Al-Bashri seraya berkata: “Wahai imam dalam agama, telah muncul di zaman kita ini kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik). Dan dosa tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama, mereka adalah kaum Khawarij. Sedangkan kelompok yang lainnya sangat toleran terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik), dan dosa tersebut tidak berpengaruh terhadap keimanan. Karena dalam madzhab mereka, suatu amalan bukanlah rukun dari keimanan dan kemaksiatan tidak berpengaruh terhadap keimanan sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh terhadap kekafiran, mereka adalah Murji’ah umat ini. Bagaimanakah pendapatmu dalam permasalahan ini agar kami bisa menjadikannya sebagai prinsip (dalam beragama)?”

Al-Hasan Al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan tersebut. Sebelum beliau menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin Atha’ berseloroh: “Menurutku pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, namun ia juga tidak kafir, bahkan ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan, tidak mukmin dan juga tidak kafir.” Lalu ia berdiri dan duduk menyendiri di salah satu tiang masjid sambil tetap menyatakan pendapatnya tersebut kepada murid-murid Hasan Al-Bashri lainnya. Maka Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Washil telah memisahkan diri dari kita”, maka disebutlah dia dan para pengikutnya dengan sebutan Mu’tazilah(3).

Pertanyaan itu pun akhirnya dijawab oleh Al-Hasan Al-Bashri dengan jawaban Ahlussunnah Wal Jamaah: “Sesungguhnya pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) adalah seorang mukmin yang tidak sempurna imannya. Karena keimanannya, ia masih disebut mukmin dan karena dosa besarnya ia disebut fasiq (dan keimanannya pun menjadi tidak sempurna) {4}.

Asas dan landasan Mu’tazilah

Mu’tazilah mempunyai asas dan landasan yang selalu dipegang erat oleh mereka, bahkan di atasnya-lah prinsip-prinsip mereka dibangun.

Asas dan landasan itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima landasan pokok). Adapun rinciannya sebagai berikut dan sekaligus kami iringi dengan bantahan cara pemahaman mereka mengenai azaz dan landasan keislaman mereka , sebagai berikut :

1. Tauhid

Yang mereka maksud dengan At-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifat Allah, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah menetapkan untuk masing-masingnya tuhan, dan ini suatu kesyirikan kepada Allah, menurut mereka(5). Oleh karena itu mereka menamakan diri dengan Ahlut-Tauhid atau Al-Munazihuuna lillah (orang-orang yang mensucikan Allah).

Bantahannya :

1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Dalil ini sangat lemah, bahkan menjadi runtuh dengan adanya dalil sam’i (naqli) dan ‘aqli yang menerangkan tentang kebatilannya. mensifati dirinya sendiri dengan sifat-sifat Adapun dalil sam’i bahwa Allah yang begitu banyak , padahal Dia Dzat Yang MahaTunggal. Allah berfirman:

Sesungguhnya adzab Rabbmu sangat dahsyat. Sesungguhnya Dialah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali), Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Buruuj: 12-16).

“Sucikanlah Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, Yang Menciptakan dan Menyempurnakan (penciptaan-Nya), Yang Menentukan taqdir (untuk masing-masing) dan Memberi Petunjuk, Yang Menumbuhkan rerumputan, lalu Ia jadikan rerumputan itu kering kehitam-hitaman.” (Al-A’la: 1-5).

Adapun dalil ‘aqli: bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari yang disifati, sehingga ketika sifat-sifat tersebut ditetapkan maka tidak menunjukkan bahwa yang disifati itu lebih dari satu, bahkan ia termasuk dari sekian sifat yang dimiliki oleh dzat yang disifati tersebut. Dan segala sesuatu yang ada ini pasti mempunyai berbagai macam sifat … “

2. Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluq bukanlah bentuk kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Ar-Risalah Al-Hamawiyah: “Menetapkan sifat-sifat Allah tidak termasuk meniadakan kesucian Allah, tidak pula menyelisihi tauhid, atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.” Bahkan ini termasuk konsekuensi dari tauhid al-asma wash-shifat. Sedangkan yang meniadakannya, justru merekalah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan. Karena sebelum meniadakan sifat-sifat Allah tersebut, mereka terlebih dahulu menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Lebih dari itu, ketika mereka meniadakan sifat-sifat Allah yang sempurna itu, sungguh mereka menyamakan Allah dengan sesuatu yang penuh kekurangan dan tidak ada wujudnya. Karena tidak mungkin sesuatu itu ada namun tidak mempunyai sifat sama sekali. Oleh karena itu Ibnul-Qayyim rahimahullah di dalam Nuniyyah-nya menjuluki mereka dengan ‘Abidul-Ma’duum (penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya).
Atas dasar ini mereka lebih tepat disebut dengan Jahmiyyah, Mu’aththilah, dan penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya.

2. Al – ‘adl ( Keadilan )

Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan . DalilnyaIkejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak (masyi’ah) Allah adalah firman Allah :


“Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205)



“Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)
Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi ( mentaqdirkannya ) oleh karena itu merekan menamakan diri mereka dengan nama Ahlul ‘Adl atau Al – ‘Adliyyah .

Bantahannya :

As-Syaikh Yahya bin Abil – Khair Al – ‘imrani berkata : kita tidak sepakat bahwa kesukaan dan keinginan itu satu , dasarnya adalah dalam Al – Qur’an Allah berfirman :

“ Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai Orang – orang kafir “

Padahal kita semua tau Allah – lah yang menginginkan adanya orang kafir tersebut dan Dia – lah yang menciptakan mereka(6).

Terlebih lagi Allah telah menyatakan bahwa sanya apa yang dikehendaki dan dikerjakan hamba tidak lepas dari kehendak dan ciptaan – Nya , Allah berfirman :

“ Dan kalian tidak akan mampu menghendaki ( jalan itu ) , kecuali bila dikehendaki Allah .” ( Al – Ihsan : 30 ) .

“ Padahal Allah – lah yang meciptakan kalian dan yang kalian perbuat” (Ash-Shaafaat : 96 ) .

Dari sini kita tau bahwa ternyata istilah keadilan itu mereka jadikan sebagai yang merupakan bagian dari takdir Allah , kedok untuk mengingkari kehendak Allah . atas dasar inilah mereka lebih pantas dikatakan Qadariyyah , Majusyiah , dan orang – orang yang zalim .

3. Al-Wa’du Wal-Wa’id

Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan Wa’idiyyah.

Bantahannya :

1. Seseorang yang beramal shalih (sekecil apapun) akan mendapatkan pahalanya (seperti yang dijanjikan Allah) sebagai karunia dan nikmat dari-Nya. Dan tidaklah pantas bagi makhluk untuk mewajibkan yang demikian itu , karena termasuk pelecehan terhadap Rububiyyah-Nya dan sebagai bentuk keraguan kepada Allah terhadap Firman – Nya :

“ Sesungguhnya Allah tidak menyelisihi janji - Nya “ ( Ali-Imran : 9 )

Bahkan Allah mewajibkan bagi diri – Nya sendiri sebagai keutamaan untuk para hamba – Nya . Adapun orang-orang yang mendapatkan ancaman dari Allah karena dosa besarnya (di bawah syirik) dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, maka sesuai dengan kehendak Allah. Dia Maha berhak untuk melaksanakan ancaman-Nya dan Maha berhak pula untuk tidak melaksanakannya, karena Dia telah mensifati diri-Nya dengan Maha Pemaaf, Maha Pemurah, Maha Pengampun , Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang . terlebih lagi Dia telah menyatakan :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (bila pelakunya meninggal dunia belum bertaubat darinya) dan mengampuni dosa yang di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48).

2. Adapun pernyataan mereka bahwa pelaku dosa besar (di bawah syirik) kekal abadi di An-Naar, maka sangat bertentangan dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 48 di atas, dan juga bertentangan dengan sabda Rasulullah r yang artinya: “Telah datang Jibril kepadaku dengan suatu kabar gembira, bahwasanya siapa saja dari umatku yang meninggal dunia dalam keadaan tidak syirik kepada Allah niscaya akan masuk ke dalam al-jannah.” Aku (Abu Dzar) berkata: “Walaupun berzina dan mencuri?” Beliau menjawab: “ Walaupun berzina dan mencuri “ ( HR. Al-Bukhori Dan muslim dari sahabat Abu Dzar Al-Ghiffari ) namun meskipun mungkin mereka harus masuk neraka terlebih dahulu.

4. Suatu keadaan di antara dua keadaan (Posisi di antara 2 posisi )

Yang mereka maksud adalah, bahwasanya keimanan itu satu dan tidak bertingkat-tingkat, sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar (walaupun di bawah syirik) maka telah keluar dari keimanan, namun tidak kafir (di dunia). Sehingga ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan (antara keimanan dan kekafiran).

Bantahannya :

1. Bahwasanya keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah :

“ Dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya Kepada mereka , maka bertambahlah keimanan mereka “ ( Al – Anfal : 2 )

Dan juga firman-Nya :

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir “ ( At-Taubah : 124-125 )

Dan dalam Firman-Nya yang lain juga :

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali ‘Imran: 173)

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)...” ( Al – Baqarah : 260 )

Rasulullah bersabda :

“Keimanan tu memiliki ( mempunyai ) enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian cabang / tingkat , yang paling utama adalah yang paling utama ucapan “Laa ilaaha illallah”, dan yang paling rendah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan sifat malu itu cabang dari iman.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah ) .

2. Atas dasar ini, pelaku dosa besar (di bawah syirik) tidaklah bisa dikeluarkan dari keimanan secara mutlak. Bahkan ia masih sebagai mukmin namun kurang iman, karena Allah masih menyebut dua golongan yang saling bertempur (padahal ini termasuk dosa besar) dengan sebutan orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling bertempur, maka damaikanlah antara keduanya...” (Al-Hujurat: 9)

5. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap pemerintah (muslim) yang zalim.

Bantahannya :

Memberontak terhadap pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip sesat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sebagaimana Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pimpinan) di antara kalian.” (An-Nisa: 59)

Rasulullahbersabda: “Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan sungguh akan ada di antara mereka yang berhati setan namun bertubuh manusia.” (Hudzaifah berkata): “Wahai Rasulullah, apa yang kuperbuat jika aku mendapati mereka?” Beliau menjawab: “Hendaknya engkau mendengar (perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.” (HR. Muslim, dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman){7}.


IV. Sesatkah Mu’tazilah ?

Dari lima landasan pokok mereka yang batil dan bertentangan dengan Al Qur’an dan As-Sunnah itu, sudah cukup sebagai bukti tentang kesesatan mereka. Lalu bagaimana bila ditambah dengan prinsip-prinsip sesat lainnya yang mereka punyai, seperti:

- Mendahulukan akal daripada Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ Ulama.

- Mengingkari adzab kubur, syafa’at Rasulullah untuk para pelaku dosa, ru’yatullah (dilihatnya Allah) pada hari kiamat, timbangan amal di hari kiamat, Ash-Shirath (jembatan yang diletakkan di antara dua tepi Jahannam), telaga Rasulullah di padang Mahsyar, keluarnya Dajjal di akhir zaman, telah diciptakannya Al-Jannah dan An-Naar (saat ini), turunnya Allah ke langit dunia setiap malam, hadits ahad (selain mutawatir), dan lain sebagainya.

- Vonis mereka terhadap salah satu dari dua kelompok yang terlibat dalam pertempuran Jamal dan Shiffin (dari kalangan shahabat dan tabi’in), bahwa mereka adalah orang-orang fasiq (pelaku dosa besar) dan tidak diterima persaksiannya. Dan engkau sudah tahu prinsip mereka tentang pelaku dosa besar, di dunia tidak mukmin dan juga tidak kafir, sedangkan di akhirat kekal abadi di dalam an-naar.

- Meniadakan sifat-sifat Allah, dengan alasan bahwa menetapkannya merupakan kesyirikan. Namun ternyata mereka mentakwil sifat Kalam (berbicara) bagi Allah dengan sifat Menciptakan, sehingga mereka terjerumus ke dalam keyakinan kufur bahwa Al-Qur’an itu makhluq, bukan Kalamullah. Demikian pula mereka mentakwil sifat Istiwaa’ Allah dengan sifat Istilaa’ (menguasai).

Kalau memang menetapkan sifat-sifat bagi Allah merupakan kesyirikan, mengapa mereka tetapkan sifat menciptakan dan Istilaa’ bagi Allah?! (8)



V. Tokoh – tokoh Terkenal Mu’tazilah

Tokoh-tokoh Mu’taziliyah yang terkenal ialah :

1.Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini.

2. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Mu’taziliyah.

an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf.

3. Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Abdul Wahab/al-Jubba’i (849-915 M).

Meski kini Mu’taziliyah tiada lagi, namun pemikiran “rasionalnya” sering digali cendekiawan Muslim dan nonmuslim.

VI. Kesimpulan

Mu’tazilah adalah pola pikir yang bisa dikatakan paham pemuja akal , karena mereka menganggap akal lah yang menentukan segalanya.

Dan mereka memiliki azaz atau landasan yang dikenal dengan “ Al-ushulul Khomsah “ 5 landasan pokok.

.

VI. Penutup

Demikian makalah ini kami buat dengan sebaik – baiknya berdasarkan sumber dari beberapa buku yang kami dapat kan , lebih kurang kami mohon maaf karena mungkin adanya keterebatasan . pada Allah kami mohon ampun dan keridhoan-Nya dan kepada teman – teman sekalian kami mohon koreksiannya.

Saturday, August 25, 2007

Tugas UAS

Pertanyaan Ujian Akhir Semester Filsafat Islam :

  1. Jelaskan Ciri – cirri Filsafat Islam ?

Jawab : Ciri dari filsafat Islam adalah Filsafat Islam bukanlah berarti Filsafat Timur tengah , namun dalam filsafat lain mungkin akan ditemukan atau disebut beberapa nama Yahudi dan Nasrani dalam filsafat Timur Tengah, dalam filsafat Islam tentu seluruhnya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan.' , hanya saja kembali pada para filsof Muslim tersebut menyampaikan Interpretasinya dihadapan Ummat.

  1. Terangkan Filsafat Emanasi Alfarabi ?

Jawab : Dalam teori emanasi (al-faidl) al-Farabi tersebut, Tuhan dilukiskan sebagai yang sama sekali Esa dan karenanya tidak bisa didefinisikan. Menurutnya, definisi hanya akan menisbatkan batasan dan susunan kepada Tuhan yang itu mustahil bagi-Nya. Tuhan itu adalah substansi yang azali, akal murni yang berfikir dan sekaligus difikirkan. Ia adalah aql, aqil dan ma’qul sekaligus. Karena pemikiran Tuhan tentang diri-Nya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu menciptakan sesuatu. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diri-Nya itu adalah Akal I. Jadi, Yang Maha Esa menciptakan yang Esa. Dalam diri Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran, yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berfikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan benda-benda langit lainnya, yaitu: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus; Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter; Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars; Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari; Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus; Akal VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri; Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan; dan Akal X menghasilkan hanya Bumi. Pemikiran Akal X tidak cukup kuat lagi untuk menghasilkan Akal. Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui pada zaman al-Farabi, yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal, karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam filsafat emanasi Al-Farabi.

  1. Jelaskan Nilai – Nilai Filsafat yang ingin Disampaikan Ibnu Tufail melalu cerita Hayya Ibnu Yakzhan ?

Jawab : Dalam Cerita tersebut , Ibnu Tufail menekankan kebijaksanaan timur yang dapat diidentifikasikan sebagai tasawuf yang saat itu banyak ditolak oleh banyak filsuf, termasuk Ibnu Bajjah. Melalui karyanya ini, Ibnu Tufail mengaku dapat memecahkan pertentangan yang timbul antara filsafat dan agama atau akal dan iman. Dua hal yang bertentangan ini dapat diumpamakan sebagai kebenaran internal dan kebenaran eksternal yang pada prinsipnya sama-sama kebenaran. Namun dua macam kebenaran ini tidak bisa digeneralisasikan untuk siapa saja tanpa melihat kecerdasan yang dimiliki oleh orang bersangkutan. Karena kebenaran filsafat hanya dapat dicapai oleh orang-orang khusus yang memiliki kecerdasan yang tinggi maka ia tidak bisa diberikan begitu saja kepada orang awam. Sementara kebenaran agama yang melalui kitab suci Alquran yang menggunakan bahasa inderawi dan makna-makna harfiah akan dapat dengan mudah difahami oleh orang pada umumnya (awam).

  1. Terangkan Filsafat Ar-Razi Mengapa Ia Terkenal Dengan Filosof Rasinalist ?

Jawab : Dikarenakan Beliau ini percaya bahwa akal adalah piranti untuk menentukan kebenaran yang utama. Jika saja ada akal yang bertentangan dengan wahyu, maka wahyu harus ditundukkan kepada akal. Ia percaya, orang awam mampu mengetahui kebenaran vis a vis pandangan ortodoksi Islam yang menganggap bahwa nabi memiliki wawasan istimewa. Ia juga menolak pemahaman penciptaan alam yang diterima al-Kindi, yaitu tentang misteri abadi. Al-Razi lebih mempercayai pandangan bahwa dunia memang diciptakan oleh Allah, tetapi bukan dari ketiadaan. Allah menciptakan dunia ini dari materi yang telah ada sebelumnya untuk kemudian dijadikan suatu bentukan baru menjadi dunia.

  1. Jelaskan Filsafat Ibnu Rusyd tentang :

- Alam

- Pengetahuan Tuhan

- Kebangkitan

Jawab :

- Alam

Tuhan menciptakan alam bukannya dari suatu ketiadaan, tetapi ketika itu telah ada sesuatu di samping-Nya yang berupa materi dasar sebagai bahan penciptaan sebagaimana ditunjukkan oleh surat Hud ayat 7, Ha Mim ayat 11 dan al-Anbiya’ ayat 30. Materi asal itupun bukannya timbul dari ketiadaan, tetapi dari sesuatu yang dipancarkan oleh pemikiran Tuhan. Di samping itu, kata khalaqa di dalam al-Qur’an juga menggambarkan penciptaan bukan dari “tiada” (creatio ex nihilo), tetapi dari “ada” (misalnya surat al-Mu’minun ayat 12 tentang penciptaan manusia). Menurutnya “tiada” tidak bisa berubah menjadi “ada”, tetapi yang tepat adalah “ada” menjadi “ada” dalam bentuk lain. Sementara tentang keazalian alam yang dimaksud para filsuf adalah merujuk pada pengertian sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus mulai dari zaman tak bermula dengan bahan dasar yang telah ada di sisi Tuhan sampai zaman tak berakhir (baca surah Ibrahim ayat 47-48).

- Pengetahuan Tuhan

Menurut Ibn Rusyd pengetahuan Tuhan itu bersifat Qadim, sedangkan pengetahuan manusia bersifat baru (hadist). Pengetahuan yang universal merupakan sebab, sedangkan pengetahuan yang khusus merupakan akibat. Dengan demikian, para filosof sesungguhnya tidak pernah mengatakan, apakah pengetahuan Tuhan tentang alam ini bersifat juz'i atau kulli.

- Kebangkitan

Menurut Rusyd, pembangkitan yang di maksud kaum filsuf adalah pembangkitan ruhy, bukan jasmani. Pandangan ini berakar dari filsafat mereka tentang jiwa. Bagi Rusyd, juga kaum filosof lainnya, yang penting bagi manusia adalah jiwanya. Kebahagiaan dan ketenangan hakiki adalah kebahagiaan jiwa. Sedang bagi Al Ghazali, kebangkitan kembali manusia tak hanya secara ruh, tapi juga jasmaniyah.

Filsuf Al-Kindi

BAB I

Latar Belakang / Pendahuluan

Pencarian Agama Adalah merupakan fitrah manusia untuk mencari dan peduli kepada kenyataan (realitas). Manusia dilahirkan dengan kualitas ini, yang tetap akan ada sampai matinya. Kadang-kadang insting untuk mencari kebenaran mungkin saja dirujuk sebagai sebuah “rasa ingin tahu” (‘sense of curiosity’), di mana manusia terdorong untuk merenungkan masalah-masalah keagamaan dan berbagai macam Pencarian Agama dan mengenai sesuatu yang telah ada , dan pada kesempatan ini saya akan memaparkan mengenai Pencarian kebenaran yang hakiki yang dijalankan oleh seorang filsuf Islam pertama yaitu Al-Kindi.

I. Al Kindi,

Filosof Muslim PertamaPada masa Dinasti Umayah memegang tampuk kekuasaan Khilafah Islamiyah, ada dua kota yang menjadi pusat (markaz) peradaban Islam, yaitu Bashrah dan Kufah. Hingga datangya kekuasaan Bani Abbas, dua kota tersebut tetap rnenjadi pusat kehidupan kebudayaan di seluruh dunia Islam,

Setelah para penguasa Daulah 'Ab-basiyah membangun kota Baghdad, pusat kebudayaan Islam pindah dari Bashrah dan Kufah ke kota yang baru tersebut. Sejak saat itu Baghdad menjadi pusat kekhalifahan di samping menjadi mercusuar kegiatan ilmiah dan peradaban. Kaum cendekiawan dan para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia banyak yang datang ke Baghdad untuk mengabdikan dirinya dalam dunia ilmiah, baik dalam rangka melakukan riset, melaksanakan proyek terjemahan yang memang sedang berkembang pesat, maupun kegiatan ilmiah lainnya. Sehingga praktis, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia.

Dalam suasana kehidupan politik dan pemikiran yang berkembang pesat itu, lahirlah sosok filosof Arab atau filosof Muslim Pertama dalam sejarah pemikiran Islam. Dialah Ya'qub ibn Ishaq AI-Kindi.

II. Riwayat Hidup

Abu Yusuf Yakub ibn Ishaq ibn al-Shabbah ibn Imran ibn Mu ibn al-Asy'ats ibn Qais al-Kindi, atau lebih populer dengan sebutan AI-Kindi adalah filosof Muslim pertama.


1.
Ia lahir di Kufah sekitar 185 H (801 M) dari keluarga berada dan terpelajar. Kakek buyutnya, al-Asy'ats ibn Qais adalah salah seorang sahabat Nabi yang gugur bersama Sa'ad ibn Abi Waqash dalam peperangan antara kaum Muslimin dengan Persia di Irak. Sedangkan ayahnya, Ishaq bin al-Shabbah adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan AI-Mahdi (775-785 M) dan AI-Rasyid (786-809 M). Sekalipun sang Gubernur sibuk dengan kegiatan-kegiatan politiknya, ia memberi perhatian penuh terhadap pendidikan putra tersayangnya, dan dengan kekayaan yang dimiliknya ia memberikan fasilitas dan sekolah yang terbaik bagi putranya.

AI-Kindi memulai perjalanan intelektualnya dari tanah kelahirannya sendiri, yaitu Kufah, kemudian melanjutkan pendidikannya kc Bashrah, yang pada saat itu merupakan pusat kegiatan ilrnu pengetahuan dan tempat utama gerakan pemikiran dan filsafat. Di Bashrah ia mempelajari ilmu-ilmu keagamaan, matematika dan filsafat. Tetapi tampaknya ia begitu tertarik kepada filsafat dan ilmu pengetahuan, sehingga setelah ia pindah ke Baghdad ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat.

Sejarah mencatat. AI-Kindi mengalami lima masa pernerintahan Daulah Abbasiyah - Al-Amin (809-813 M); Al-Ma'mun (813-833 M); Al-Mu'tashim (833-842 M); Al-Watsiq (842-847 M); dan Al-Mutawakkil (-861 M) - suatu masa kejayaan Dinasti Abbasiyah dan berkernbang pesatnya khazanah intelektual.

Di Baghdad - pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah - inilah ketajaman intelektualnya semakin terasah dan karir intelektualnya pun berkembang pesat. Hal ini bermula dari perkenalannya dengan Al-Ma'mun, khalifah pada masa itu yang sedang rnenggalakkan kegiatan-kegiatan ilmiah berupa pengkajian ilmu pengetahuan, dan yang paling monumental adalah proyek penerjemahan secara besar-besaran di bawah naungan sebuah lembaga yang disebut dengan "Bayt al-Hikmah" (Pustaka Kebijaksanaan). Khalifah meminta AI-Kindi untuk terlibat aktif dalam lembaga tersebut, baik sebagai tenaga edukatif, maupun sebagai peneliti dan penerjemah. Bahkan ia diminta menjadi guru pribadi Ahmad, putra AI-Mu'tashim.

Tampaknya, AI-Kindi sangat menikrnati suasana intelektual pada saat itu. la menerjemahkan beberapa karya dan merevisi terjemahan orang lain, seperti teologi Aristoteles. Hal ini dimungkinkan karena Al-Kindi menguasai ajaran-ajaran Persia, Yunani, dan India, serta ia juga fasih berbahasa Ibrani, Yunani, dan Arab. Untuk mengalih-bahasakan istilah-istilah filosofis dan ilmiah tertentu yang ia temukan dalam karya-karya asing, ia menciptakan beberapa kata baru dalam bahasa Arab, seperti jirm untuk tubuh, thinah untuk materi, al-tawahum untuk irnajinasi, dan lain-lain.


Karena wawasannya yang luas tentang berbagai jenis ilmu pengetahuan, juga karena ia seorang Arab yang beragama Islam, dan tidak seperti orang lain yang memperoleh ilmu pengetahuan lewat karya-karya terjemahan, maka ia layak disebut sebagai "Filosof Arab" atau "Filosof Muslim" pertama.
Corak filsafat AI-Kindi tidak banyak diketahui karena buku-bukunya tentang filsafat banyak yang hilang. Baru pada zaman belakangan orang menemukan kurang lebih 20 risalah Al-Kindi dalam tulisan tangan. Mereka yang berminat besar menelaah filsafat Islam, baik kaum orientals maupun orang-orang Arab sendiri, telah menerbitkan risalah-risalah tersebut. Dengan demikian, orang mudah menemukan kejelasan mengenai posisi Al-Kindi dan paham filsafatnya.

III. Filsafatnya

1. Talfiq

AI-Kindi adalah orang pertama yang merintis jalan menuju keterpaduan (talfiq) dan kesesuaian antara filsafat (yang berasal dari Yunani) dan prinsip-prinsip ajaran agarna (Islam), sehingga melahirkan filsafat Islam.

Filsafat berlandaskan akal pikiran, sedang agama berlandaskan wahyu. Logika merupakan metode filsafat; sedangkan iman, yang merupakan kepercayaan kepada hakekat-hakekat yang disebutkan dalam Al-Quran, merupakan jalan agama.

Menurut AI-Kindi, filsafat adalah pengetahuan yang benar (knowledge of truth). Al-Quran yang membawa argumen-argumen yang lebih meyakinkan dan benar tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan filsafat. Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi tujuan dari keduanya.

Dengan demikian, menurut AI-Kindi: orang yang menolak filsafat berarti mengingkari kebenaran. la mengibaratkan orang yang mengingkari kebenaran tersebut tidak beda dengan orang yang memperdagangkan agama, dan orang itu pada hakekatnya tidak lagi beragama karena ia telah menjual agamanya. "Siapa yang memperdagangkan agama berarti ia bukan orang beragama. Orang yang mengingkari usaha mengetahui hakekat sesuatu berhak untuk membebaskannya dari agama, sehingga ia disebut sebagai orang kafir". tegas al-Kindi.


Meskipun AI-Kindi berusaha memadukan antara filsafat dan agama, bukan berarti ia rnenafikan adanya perbedaan antara keduanya. Dalam karyanya Kamiyyah Kutub Aristoteles, AI-Kindi memaparkan tiga perbedaan mendasar antara filsafat dan agama sebagai berikut:

A.
Filsafat termasuk ilmu humaniora
yang dicapai filsuf dengan berpikir dan belajar. Sedangkan agama adalah ilmu ketuhanan yang menempati tingkat tertinggi karena diperoleh tanpa melalui proses belajar, melainkan diterirna secara langsung oleh para Rasul dalam bentuk wahyu.
B.
Jawaban filsafat menunjukkan ketidakpastian (semu) dan memerlukan berpikir atau perenungan Sedangkan agarna lewat dalil-dalilnya yang dibawa Al Quran memberi Jawaban secara pasti dan meyakinkan dengan mutlak.
C. Filsafat menggunakan metode: logika, sedangkan agama mendekatinya dengan keimanan (pendekatan Imany).

Jadi, AI-Kindi adalah filosof Muslim pertama yang menyelaraskan antara agama dan filsafat. la melicinkan jalan bagi AI-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd. la memberikan dua pandangan berbeda. Pertama, mengikuti jalur ahli logika, dan memilsafatkan agama, dan kedua, memandang agama sebagai sebuah ilmu ilahiah, dan menempatkannya di atas filsafat. Ilmu ilahiah ini diketahui lewat jalur para nabi. Tetapi melalui penafsiran filosofis: agama rnenjadi selaras dengan filsafat.

2. Fisika

Dalam menguraikan pcrsoalan-persoalan fisika, AI-Kindi merujuk kepada dua filosof besar, yaitu Aristoteles dan Plato. Dalam beberapa risalahnya tentang fisika, terlihat jelas corak Aristoteles dan Platonisme mewarnai cara berpikirnya. AI-Kindi mengikuti cara berpikir kedua filosof tersebut dengan jalan memilih dan menggabungkannya.
Mengenai alam. AI-Kindi berpendapat bahwa alam ini mempunyai 'illat ula (the First Cause), yaitu Tuhan. Tuhan, menurut AI-Kindi, menjadikan alam dari tiada menjadi ada (creatio ex nihiio). Tuhan tidak hanya menjadikan alam, tetapi jugn mengendalikan dan mengaturnya, serta menjadikan sebagiannya menjadi sebab bagi sebagian yang lain. Dengan demikian alam yang awalnya tidak ada menjadi ada, tidak dapat dikatakan qadim menurut Al-Kindi.


AI-Kindi juga menyebutkan bahwa di dalam alarn ini terdapat bermacam-macam gerak, antara lain gerak kejadian. Adapun sebab (Ulat) gerak, yaitu apabila terhimpun empat sebab sebagaimana disebutkan oleh Aristoteles, yaitu; 1) sebab unsur (iliat unshuriyyah; material cause), 2) sebab bentuk (itlat shuriyyah; form cause). 3) sebab pencipta (iliat fa'ilah; moving cause), baik yang bersifat dekat maupun jauh, 4) sebab tujuan (iliat ghayah; final cause).

Tentang baharunya alam, AI-Kindi berbeda pandangan dengan Aristoteles. Jika Aristoteles tidak mernbenarkan bahwa alam itu tercipta dari tidak ada sama sekali menjadi ada, karena hal ini mengharuskan adanya sesuatu sebagai tempat berlangsungnya gerak, maka AI-Kindi mengatakan bahwa penciptaan (ibda', kejadian dari tidak ada sama sekali) bagi benda bersamaan dengan geraknya.

3. Metafisika

Dalam beberapa risalahnya, antara lain risalah yang berjudul Fi al-Falsafah al-Ula (tentang Filsafat Pertama), dan Fi Wah-daniyatillah wa Tanahi Jirm al- 'Alam (tentang Keesaan Tuhan dan Berakhirnya Benda-benda Alam), Al-Kindi rnenguraikan panjang lebar tentang persoalan metafisika. Pembicaraan dalam soal ini meliputi hakekat Tuhan, wujud Tuhan dan sifat-sifat Tuhan.

Berbicara masalah ketuhanan, bagi Al-Kindi, Tuhan adalah wujud yang sempurna, wujud yang haq (benar) dan tidak didahului oleh wujud lain. Wujud Tuhan tidak berakhir, sedangkan wujud lain disebabkan oleh wujud-Nya. Tuhan adalah Maha esa yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak ada zat lain yang menyamai-Nya dalam segala hal.

Tuhan hanya satu dan tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Ia adalah al-Haq al-Awwal dan al-Haq al-Wahid. Ia semata-mata satu. Hanya Ia-lah yang satu, selain dari Tuhan mengandung arti banyak, Pendapat AI-Kindi yang memandang pembahasan mengenai Tuhan sebagai bagian filsafat yang paling tinggi kedudukannya, sama dengan pendapat Aristoteles dalam bukunya Metaphysica, yang di kalangan ilmuwan Arab disebut Kitab al-Huruf. Perbedaan yang sangat mendasar antara pendapat AI-Kindi dan Aristoteles tentang Tuhan adalah, jika Aristoteles menyebut Tuhan sebagai "Penggerak Yang Tidak Bergerak" (Unmovable Mover), sementara Al-Kindi menyebut Tuhan sebagai "Pencipta Yang Menguasai segala ciptaan-Nya", bukan Penggerak Pertama sebagaimana pendapat Aristoteles.
Karenanya pula, Tuhan bersifat azali, yaitu Zat yang sama sekali tidak bisa dikatakan pernah tidak ada, atau tergantung pada "Sebab", melainkan Zat yang ada dan wujud-Nya tidak tergantung pada lain-Nya,



Kesimpulannya ialah bahwa Tuhan adalah Sebab Pertama (The First Cause), di mana wujud-Nya bukan karena sobab yang lain, la adalah Zat yang menciptakan, tetapi bukan diciptakan. la adalah Zat yang menyempurnakan, tetapi bukan disempurnakan.

4. Jiwa dan Akal

Menurut Al-Kindi, jiwa tidak tersusun, namun mempunyai arti penting, sempurna, dan mulia. Substansi jiwa berasal dari Tuhan. Hubungan jiwa dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari. Selain itu jiwa bersifat spiritual, llahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh. Jiwa atau ruh tidak pernah tidur, hanya saja ketika tubuh tertidur, ia tidak menggunakan indera-inderanya. Dan bila disucikan, ruh dapat melihat mimpi-mimpi luar biasa dalam tidur dan dapat berbicara dengan ruh-ruh lain yang telah terpisah dari tubuh-tubuh mereka.
Argumen yang dikemukakan AI-Kindi tentang perbedaan ruh dengan badan adalah bahwa ruh menentang keinginan hawa nafsu dan sifat pemarah. Dengan demikian jelas bahwa yang melarang tidak sama dengan yang dilarang, Dengan pendapat Al-Kindi tersebut, ia lebih dekat kepada pemikiran Plato daripada Aristoteles. Aristoteles mengatakan bahwa jiwa adalah baharu, karena jiwa adalah form bagi badan. Form tidak bisa tinggal tanpa materi, keduanya membentuk satu kesatuan esensial, dan kemusnahan badan membawa pada kemusnahan jiwa.

Sedangkan Plato berpendapat bahwa kesatuan antara jiwa dan badan adalah kesatuan accidental dan temporer. Binasanya badan tidak mengakibatkan lenyapnya jiwa, Namun demikian, Al-Kindi tidak setuju dengan pendapat Plato bahwa jiwa berasal dari alam ide. Lebih jauh, AI-Kindi berpendapat bahwa jiwa mempunyai tiga daya, yakni: 1) daya bernafsu (appetative faculty); 2) daya pemarah (irascible faculty); 3) daya berpikir (cognitive faculty). Daya yang ketiga (daya berpikir) inilah yang disebut dengan akal.

Jiwa atau ruh selama berada dalam badan tidak akan memperoleh kesenangan yang sebenarnya dan pengetahuannya tidak sempurna. Hanya setelah bercerai dengan badan, ruh akan memperoleh kesenangan yang hakiki dan pengetahuan yang sempurna. Setelah berpisah dengan badan, ruh pergi ke Alam Kebenran atau Alam Akal di atas bintang-bintang, di dalam lingkungan cahaya Tuhan, dekat dengan Tuhan dan dapat "melihat" Tuhan. Di sinilah letak kesenangan abadi dari ruh.

Di sini terlihat bahwa AI-Kindi tidak percaya pada kekekalan hukum terhadap jiwa, tetapi meyakini bahwa pada akhirnya jiwa akan memperoleh keselamatan dan naik ke Alam Akal. Kendatipun bagi AI-Kindi jiwa adalah qadim, namun keqadimannya berbeda dengan qadimnya Tuhan. Qa-dimnya jiwa karena diqadimkan oleh Tuhan.

5. Moral

Filsafat moral AI-Kindi dipengaruhi oleh tradisi Stoa (hidup bahagia). Inti dari filosofi Sfoa adalah etik. Maksud etik adalah mencari dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup yang tepat. Kemudian melaksanakan dasar-dasar itu dalam kehidupan. Kaum Sfoa berpendapat, bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah memperoleh "harta yang terbesar nilainya", yaitu kesenangan hidup atau kebahagiaan hidup. Kemerdekaan moral seseorang adalah dasar segala etik kaum Sfoa.

Menurut Al-Kindi, filsafat harus mem-perdalam pengetahuan manusia tentang diri dan bahwa seorang filosof wajib rnenempuh hidup susila. Manusia harus menjauhkan diri dari keserakahan. AI-Kindi mengecam para ulama yang memperdagangkan agama (tijarat bi al-din) untuk tnemperkaya dirinya. AI-Kindi memuji Socrates sebagai contoh zahid (asket). Sebagai filosof, AI-Kindi khawatir, kalau-kalau syariat kurang menjamin perkembangan kepribadian seseorang secara wajar, karena itu ia menawarkan akhlak, sebagaimana dilakukan oleh kaum Stoa dan Socrates, sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan hidup.

Karya-karyanya

Al-Kindi adalah salah seorang filosof Muslim yang produktif dalam menghasilkan berbagai macam karya ilmiah. Diperkirakan karya yang pernah ditulis Al-Kindi dalam bcrbagai bidang tidak kurang dari 270 buah. Karyanya dalam bidang filsafat antara lain:

1. Kitab al-Kindi ila al-Mu 'tashim Biilah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertarna);
2. Risalat al-Kindi fi Hudud al-Asyya' wa Rusumiha (tentang definisi benda-benda dan uraiannya);
3. Risalat al-Kindi ila 'AH ibn al-Jahm fi Wahdaniyatiliah wa Tanahi Jirm al-'Alam (tentang keesaan Allah dan berakhirnya benda-benda Alam)
4. Kitab al-Falsafah al-Dakhilat- wa al-Masail al-Manthiqiyyah wa al-Muq-tashah wa ma Fawqa al-Thabi'iyyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah-masalah logika dan muskil, serta metafisika);
5. Kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah ilia bi 'llmi a!-Riyadhiyyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan
matematika);
6. Kitab fi Qashd Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksud Aristoteles dalam kategori-kategorinya)


7. Kitab fi Ma 'iyyah al- 'llm wa Aqsamihi (tentang sifat ilmu pengetahuan
dan klasifikasinya);
8. Risalah fi Annahu Jawahir la Ajsam (tentang substansi-substansi tanpa badan);
9. Kitab fi Ibarah a!-Jawami' ai-Fikhyah (tentang ungkapan-ungkapan me-
ngenai ide-ide komprehensif);
10. Risaiah fi al-lbanah an al-lilat al-Fa'iiat ai-Qaribah II al-Kawn wa al-Fasad (tentang penjelasan mengenai sebab dekat yang aktif terhadap alam dan kerusakan);
11. Risalah al-Hikmiyyah fi Asrar al-Ruhaniyah (sebuah tulisan filosofis tentang rahasia-rahasia spiritual).



Penutup

Ketika Dinasti Abbasiyah diperintah oleh AI-Mutawakkil, mazhab Asy'ariyah dijadikan sebagai mazhab resmi negara. Suasana ini kemudian dimanfaatkan oleh kelompok yang anti filsafat. Atas hasutan Ahmad dan Muhammad, dua bersaudara putra. Musa ibn Syakir, AI-Mutawakkil memerintahkan agar Al-Kindi didera dan perpustakaannya yang bernama "Kin-diyah" disita. Tetapi tidak lama kemudian perpustakaannya dikembalikan kepada pemiliknya.

Menjelang akhir abad ke-19 M, sang "filosof dari Arab" ini meninggal dunia. Mengenai kepastian tahun wafatnya, ada beberapa informasi yang berbeda. Louis Massignon mengatakan bahwa Al-Kindi wafat sekitar 246 H (860 M). C. Nallino menduga tahun 260 H (873 M), dan T.J. de Boer menyebut 257 H (870 M}. Adapun Musthafa Abd al-Raziq (mantan Rektor Al-Azhar) mengatakan tahun 252 H (866 M). dan Yaqut al-Himawi menyebutkan setelah berusia 80 tahun atau Icbih sedikit.

Wednesday, January 31, 2007

SEKlLAS PANDANG TENTANG ALlRAN FILSAFAT

Ahmad Abdul Malik

Fakultas Sastra Dan Kebudayaan Islam

IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi




Pendahuluan



SEKlLAS PANDANG TENTANG ALlRAN FILSAFAT

Dalam perjalanannya, problem yang dihadapi oleh manusia makin kompleks, sehingga membutuhkan jawaban yang kompleks pula. Jawaban yang diberikan terhadap suatu problem tidak selalu dapat tuntas, bahkan kadang-kadang hanya sebagian kecil darinya yang terjawab dengan baik. Karena latar belakang yang berbeda-beda, baik dilihat dari manusianya maupun tantangan atau problemnya, maka berakibat juga pada beragamnya bagaimana suatu jawaban diberikan.
Oleh karena itu, suatu problem yang sama, karena dilihat dari berbagai sudut dan arah, menimbulkan jawaban yang berbeda. Timbullah bermacam-macam aliran dalam filsafat.
Manusia memegang peranan yang penting dalam munculnya aliran-aliran dalam filsafat. Pada hakikatnya, karena ia mempunyai unsur kejiwaan, yaitu cipta, rasa dan karsa, maka setiap orang dapat menghasilkan filsafatnya sendiri. Namun pada sisi yang lain, kenyataan menunjukkan bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat mengemukakan pendapat serta ajaran yang bernilai filsafati. Hambatan-hambatan yang ditimbulkan oleh kata dan susunan kalimat dalam suatu bahasa seringkali memaksa seorang filsuf untuk menyusun kalimat atau rangkaian kata baru semata-mata untuk bisa membuat representasi yang mendekati apa yang terkandung dalam pikirannya. Oleh karena filsafat merupakan hasil permenungan jiwa manusia yang terdalam, maka corak (sifat, khas) dalam tiap-tiap aliran tidak terlepas dari unsur-unsur yang menyusun manusia itu sendiri.
1. Corak yang sesuai dengan unsur jiwa dan raga:
Manusia terdiri atas jiwa dan raga, karenanya filsafat ada yang menintikberatkan atau mengagungkan jiwa atau memberi tempat yang tinggi kepada jiwa atau unsur-unsur dalam. Aliran yang termasuk jenis ini antara lain adalah:
o Idealisme, yang memberi tempat tertinggi pada idea.
o Spiritualisme, yang memberi tempat tertinggi pada jiwa.
o Rasionalisme, yang memberi tempat tertinggi pada akal.

Sebaliknya, ada yang menempatkan unsur-unsur ragawi, unsur-unsur luar, sebagai yang tertinggi. Termasuk dalam aliran ini antara lain adalah:
o Materialisme, yang memberi tempat tertinggi pada materi.
o Empirisme, yang memberi tempat tertinggi pada pengalaman.
o Sensisme, yang memberi tempat tertinggi pada panca indera.

2. Corak yang sesuai dengan sifat individu dan sosial:
Manusia memiliki sifat individu dan sosial, karena itu pengejawantahan dari sifat ini terlihat pula dalam corak aliran filsafat. Ada yang mengagungkan sifat individunya. Aliran yang termausk jenis ini antara lain adalah:
o Individualisme, yang memberi tempat tertinggi pada individu.
o Liberalisme, yang mengagungkan hak mutlak setiap individu.


Sebaliknya, ada yang mengagungkan sifat sosialnya. Termasuk dalam aliran ini adalah:
o Altruisme, yang mengutamakan kepentingan orang lain semata-mata.
o Sosialisme, yang mengutamakan kepentigan sosial lebih dari kepentingan individu.
3. Corak yang menyangkut hubungan manusia dengan "Yang Mahakuasa":
Dalam hal ini, aliran di dalam filsafat ada yang bercorak teistik, ada pula yang ateistik. Misalnya, Tomisme memberi tempat yang tinggi kepada Tuhan, sedangkan Positivisme menolak teologi.
4. Corak perpaduan:
Karena ada aliran kefilsafatan yang menekankan atau mengagungkan salah satu unsur, maka terjadi jurang pemisah antara keduanya. Karena ada jurang pemisah itu, timbullah usaha untuk menghubungkan kedua sisinya yaitu dengan membuat jembatan. Beberapa contoh di antaranya adalah:
o Immanuel Kant (lahir 1724 di Koningsbergen) berusaha menjembatani antara Rasionalisme dan Empirisme.
o G.W.F. Hegel (lahir 1770 di Stuttgart) membuat jembatan antara pendapat Fichte dengan pendapat Friedrich Yoseph Schelling.
Sistem fichte adalah idealisme subjektif, sedang Schelling adalah idealisme objektif. Jembatan yang dibuat oleh Hegel adalah idealisme absolut. Inilah bentuk metode dialektik Hegel yaitu Tesis-Antitesis-Sintesis. Karena Sintesis pada hakikatnya adalah suatu Tesis Baru, maka dari padanya akan timbul Antitesis baru, demikian pula akan timbul Sintesis Baru, dan seterusnya.

Pada bagian kali ini, kami akan mengangkat satu aliran filsafat yang sangat berpengaruh di Barat pada abad kedua puluh, terutama setelah selesainya Perang Dunia Kedua. Ialah "Eksistensialisme". Pembahasan berikut ini akan menjadi model pembahasan bagi aliran-aliran filsafat lainnya; di mana kami secara rutin akan menambahkan materi-materi baru dalam bagian ini, sehingga, mudah-mudahan, seluruh aliran filsafat, utamanya aliran-aliran yang besar, mendapat kesempatan untuk disajikan ke hadapan pembaca.

I. IDEALISME

a. Pengertian Pokok.

Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa
realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang
sejenis dengan i tu.

b. Perkembangan Idealisme.

Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan
sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk
ajaran yang murni dari Plato. yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah
yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang
ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.
Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang
menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam
benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat
dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sarna sekali. Di
masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh
semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.
Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua
seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian
dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting
daripada kebendaan.
Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada
penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak
memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman Idealiasme pada masa
abad ke-18 dan 19 ketika periode Idealisme. Jerman sedang besar sekali
pengaruhnya di Eropah.

C. Tokoh-tokohnya.

1. Plato (477 -347 Sb.M)
2. B. Spinoza (1632 -1677)
3. Liebniz (1685 -1753)
4. Berkeley (1685 -1753)
5. Immanuel Kant (1724 -1881)
6. J. Fichte (1762 -1814)
7. F. Schelling (1755 -1854)
8. G. Hegel (1770 -1831)


Seluruh sejarah filsafat dari jaman Yunani sampai hari ini tersusun atas pergulatan antara dua aliran pemikiran yang persis berseberangan - materialisme dan idealisme. Di sini kita mendapati satu contoh yang sempurna tentang bagaimana kedua istilah yang dipergunakan dalam filsafat ini berbeda makna secara hakiki dengan maknanya yang dipergunakan sehari-hari.
Ketika kita merujuk seseorang sebagai "idealis", kita biasanya berpikir tentang seseorang yang memiliki ideal-ideal yang tinggi dan moralitas yang tak bercacat. Seorang materialis, sebaliknya, dipandang sebagai seorang yang tidak punya prinsip, seorang pengeruk uang, seorang individualis yang hanya memikirkan diri sendiri, dengan nafsu serakah untuk makanan dan benda-benda duniawi lain - pendeknya, seorang yang sama sekali tidak menyenangkan.
Kedua pemaknaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialisme dan idealisme di dunia filsafat. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme, yang telah lahir sebelum jamannya.
Para pengikut Pythagoras percaya bahwa hakikat dari segala hal adalah Angka (satu pandangan yang agaknya dimiliki pula oleh beberapa ahli matematika modern). Para Pythagorean ini menunjukkan penghinaan terhadap dunia material secara umum dan tubuh manusia secara khusus, yang mereka pandang sebagai penjara di mana jiwa terperangkap. Pandangan ini memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan pandangan-pandangan para biarawan abad pertengahan. Benar, mungkin saja bahwa Gereja mengambil banyak ide mereka dari kaum Pythagorean, Platonis dan Neo-Platonis. Hal ini tidaklah mengejutkan. Semua agama niscaya memiliki akar dalam pandangan idealis terhadap dunia. Perbedaannya adalah bahwa agama mempengaruhi emosi, dan mengaku menyediakan satu pemahaman yang mistis dan intuitif terhadap dunia ("Penglihatan"), sementara kebanyakan filsuf idealis berupaya menyajikan satu argumen yang logis untuk teori-teori mereka.
Pada dasarnya, bagaimanapun juga, akar dari segala bentuk idealisme adalah religius dan mistis. Kejijikan terhadap "dunia material kasar" dan pengangkatan "Ide" ke posisi yang tinggi mengalir langsung dari gejala yang telah kita lihat dalam hubungannya dengan agama. Bukanlah sebuah kebetulan jika idealisme Platonis berkembang di Athena ketika sistem perbudakan sedang berada dalam puncak kejayaannya. Kerja-kerja fisik, pada saat itu, dilihat secara harafiah sebagai sebuah penanda perbudakan. Satu-satunya kerja yang dapat dihargai adalah kerja-kerja intelektual. Secara hakiki, filsafat idealisme adalah satu produk dari pembedaan yang ekstrim antara kerja-kerja fisik dan mental yang telah hadir dari sejak menyingsingnya fajar sejarah sampai hari ini.
Sejarah filsafat Barat, walau demikian, tidak dimulai dengan idealisme melainkan dengan materialisme. Filsafat ini menunjukkan kepada kita persis kebalikan dari idealisme: bahwa dunia material, yang kita kenal dan jelajahi melalui ilmu pengetahuan, nyata adanya; bahwa satu-satunya dunia yang nyata adalah dunia material; bahwa pikiran, ide, dan perasaan adalah hasil dari materi yang terorganisir dalam cara tertentu (sistem syaraf dan otak); bahwa pikiran tidak dapat hadir dari dirinya sendiri, tapi hanya dapat timbul dari dunia objektif yang menyatakan dirinya kepada kita melalui alat-alat indera kita.
Para filsuf Yunani yang paling awal dikenal sebagai "hylozois" (dari bahasa Yunani, yang berarti "mereka yang percaya bahwa materi itu hidup"). Di sini kita mendapati sederetan panjang pahlawan yang mempelopori perkembangan pemikiran. Orang-orang Yunani menemukan bahwa dunia itu bulat, jauh sebelum Columbus. Mereka menerangkan bahwa manusia berevolusi dari ikan jauh sebelum Darwin. Mereka membuat penemuan-penemuan luar biasa dalam bidang matematik, yang tak diubah banyak selama satu setengah milenia. Mereka menemukan mekanika dan bahkan membuat satu mesin uap. Hal baru yang mengejutkan dalam cara memandang dunia ini adalah bahwa cara itu tidaklah religius. Berseberangan mutlak dengan orang-orang Mesir dan Babilonia, dari mana mereka banyak belajar, orang-orang Yunani tidaklah menyerahkan penjelasan atas gejala alam kepada para dewa dan dewi. Untuk pertama kalinya, manusia mencoba bekerjanya alam murni dengan mempelajari alam itu sendiri. Ini adalah satu dari titik balik terbesar dalam seluruh sejarah perkembangan pemikiran manusia. Ilmu pengetahuan yang sejati bermula di sini.
Aristoteles, yang terbesar dari seluruh filsuf jaman kuno, dapat dianggap seorang materialis, sekalipun ia tidaklah sekonsisten para hylozois pertama. Ia membuat serangkaian penemuan ilmiah yang merupakan basis bagi pencapaian-pencapaian besar sepanjang masa-masa Alexander.
Abad pertengahan yang menyusul runtuhnya Jaman Kuno adalah satu padang tandus di mana pemikiran ilmiah berdiri terkucil selama berabad-abad. Bukan satu kebetulan bahwa masa ini didominasi oleh Gereja. Idealisme adalah satu-satunya filsafat yang diperbolehkan, apakah itu dalam bentuk Platonis karikatural atau bahkan, lebih buruk lagi, satu penyimpangan atas filsafat Aristoteles.
Ilmu pengetahuan muncul kembali dengan jaya dalam masa Jaman Pencerahan. Di sana ia dipaksa untuk melancarkan perang yang ganas terhadap pengaruh agama (bukan hanya Katolik, melainkan juga Protestan). Banyak martir yang harus membayar harga kebebasan ilmiah dengan nyawanya sendiri. Giordano Bruno dibakar hidup-hidup di tiang bakaran. Galileo dua kali diadili oleh Pengadilan Inkuisisi, dan dipaksa dengan siksaan untuk meyangkal pandangan-pandangannya.
Kecenderungan filosofis yang dominan dalam Jaman Pencerahan adalah materialisme. Di Inggris, kecenderungan ini mengambil bentuk empirisisme, aliran pemikiran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan merupakan turunan dari perasaan inderawi. Pelopor dari aliran ini adalah Francis Bacon (1561-1626), Thomas Hobbes .(1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran materialis berkisar dari Inggris ke Perancis di mana ia memperoleh satu suntikan isi revolusioner. Di tangan Diderot, Rousseau, Holbach, dan Helvetius, filsafat menjadi satu alat untuk mengkritisi seluruh tatanan masyarakat yang ada. Para pemikir besar ini menyiapkan jalan untuk penggulingan revolusioner atas monarki feudal di tahun 1789-93.
Pandangan filosofis yang baru ini merangsang perkembangan ilmu pengetahuan, mendorong dilakukannya percobaan-percobaan dan pengamatan-pengamatan. Di abad ke-18 terjadilah satu kemajuan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, terutama di bidang mekanika. Tapi fakta ini memiliki sisi negatif, seiring dengan sisi positifnya. Materialisme lama di abad ke-18 bersifat sempit dan kaku, suatu cerminan dari perkembangan ilmu pengetahuan yang masih terbatas. Newton menyatakan batasan empirisisme dalam kalimatnya yang terkenal, "Saya tidak membuat hipotese apapun." Pandangan mekanis yang sepihak ini akhirnya terbukti fatal bagi materialisme lama. Secara paradoks, perkembangan terbesar dalam filsafat setelah 1700 justru dibuat oleh para filsuf idealis.
Di bawah pengaruh revolusi Perancis, filsuf idealis Jerman Immanuel Kant (1724-1804) meletakkan semua filsafat yang hadir sebelum jamannya ke bawah hujan badai kritisisme. Kant membuat penemuan-penemuan penting bukan hanya dalam filsafat dan logika tapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan. Hipetesisnya tentang asal-usul alam semesta yang diperkirakannya berasal dari kabut gas nebula (yang kemudian diberi basis matematik oleh Laplace) sekarang secara umum diterima sebagai kebenaran. Di bidang filsafat, adikarya Kant The Critique of Pure Reason adalah karya pertama yang menganalisa bentuk-bentuk logika yang telah tinggal tak berubah setelah bentuk-bentuk itu dirumuskan pertama kali oleh Aristoteles. Kant menunjukkan kontradiksi yang secara implisit terdapat dalam kebanyakan proposisi mendasar filsafat. Walau demikian, ia gagal menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi ini ("Antinomi"), dan akhirnya menarik kesimpulan bahwa mustahil kita mendapatkan kebenaran yang sejati tentang alam semesta. Walau kita dapat mengetahui apa yang nampak, kita tidak akan pernah tahu "apa yang ada di dalamnya".
Ide ini bukanlah sesuatu yang baru. Ide ini adalah tema yang telah berulang berkali-kali dalam sejarah filsafat, dan merupakan apa yang dikenal dengan istilah idealisme subjektif. Ini dikemukakan sebelum Kant oleh seorang uskup dan filsuf dari Irlandia, George Berkeley, dan digemakan juga oleh empirisis klasik Inggris, David Hume. Argumen dasarnya dapat diringkaskan sebagai berikut: "Saya menginterpretasi dunia melalui indera saya. Dengan demikian, semua yang saya tahu benar-benar ada adalah citra yang ditangkap oleh indera saya. Dapatkah saya, contohnya, bersumpah bahwa sebuah apel benar-benar ada? Tidak. Apa yang saya dapat katakan adalah saya melihatnya, saya merasakannya, saya menciumnya, saya mengecapnya. Dengan demikian, saya tidak dapat benar-benar menyatakan bahwa dunia material benar-benar ada." Logika dari idealisme subjektif adalah bahwa, jika saya menutup mata saya, dunia ini akan menghilang. Pada ujungnya, filsafat ini akan membawa kita pada solipisme (dari bahasa Latin "solo ipsus" - "saya sendiri"), ide bahwa hanya saya sendiri yang ada, yang lain tidak ada.
Ide ini mungkin tidak masuk nalar bagi kita, tapi mereka telah terbukti tetap bertahan. Melalui satu atau lain cara, prasangka idealisme subjektif telah merasuki bukan hanya filsafat tapi juga ilmu pengetahuan, bahkan pada sebagian besar abad ke-20. Kita akan melihat kecenderungan ini lebih lanjut di belakang.
Terobosan terbesar datang dalam dekade pertama abad ke-19 melalui George Wilhelm Hegel (1770-1831). Hegel adalah seorang filsuf idealis Jerman, seorang yang kejeniusannya menjulang setinggi langit, yang dengan efektif telah meringkas dalam tulisannya seluruh kesejarahan filsafat.
Hegel menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi "Antinomi" Kant adalah dengan menerima bahwa kontradiksi itu benar-benar ada, bukan hanya dalam pemikiran, tapi juga dalam dunia nyata. Sebagai seorang idealis objektif, Hegel tidak mempedulikan argumen kaum idealis subjektif bahwa pikiran manusia tidak mungkin memahami dunia nyata. Bentuk-bentuk pikiran harus mencerminkan dunia objektif semirip mungkin. Proses pengetahuan mengandung satu penetrasi yang semakin lama semakin dalam menerobos realitas, maju dari yang abstrak ke yang kongkrit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari yang khusus menuju yang umum.
Metode berpikir yang dialektik ini telah memainkan satu peran besar di Jaman Kuno, khususnya dalam ujar-ujar yang naif tapi brilian dari Heraclitus (c. 500 SM), tapi juga dalam pemikiran Aristoteles dan yang lain-lain. metode ini ditinggalkan di Abad Pertengahan, ketika Gereja mengubah logika formal Aristoteles menjadi dogma yang kaku dan mati. Metode ini tidak muncul-muncul lagi sampai Kant mengembalikannya ke tempat yang terhormat. Walau demikian, dalam filsafat Kant dialektika tidaklah menerima perlakuan yang cukup untuk memperkembangkannya. Tugas untuk membawa ilmu berpikir dialektik ke tingkat perkembangannya yang tertinggi jatuh ke tangan Hegel.
Kebesaran Hegel ditunjukkan oleh fakta bahwa hanya dia sendiri yang siap menantang filsafat mekanisme yang dominan pada masa itu. Filsafat dialektika Hegel mengurusi proses, bukan hal-hal yang saling terisolasi satu sama lain. Filsafat itu mengurusi segala hal dalam masa kehidupannya, bukan dalam kematiannya, dalam kesalingterhubungannya, bukan dalam kesalingterpisahannya. Ini adalah cara memandang dunia yang benar-benar modern dan ilmiah. Sesungguhnya, dalam banyak aspek, Hegel maju jauh lebih dahulu dari jamannya. Walau demikian, sekalipun ia memiliki pandangan yang sering gemilang, filsafat Hegel pada akhirnya tidaklah cukup memuaskan. Kekurangannya yang utama adalah sudut pandangnya yang idealis, yang menghalanginya dalam menerapkan metode dialektika pada dunia nyata dengan cara yang ilmiah dan konsisten. Bukannya mendapat dunia material, kita malah mendapat dunia Ide Absolut, di mana benda-benda nyata, proses dan manusia digantikan oleh bayangan-bayangan tak berbentuk. Mengutip Frederick Engels, dialektika Hegelian adalah filsafat yang paling abortif [gugur sebelum waktunya, pen.] sepanjang sejarah filsafat. Ide-ide yang tepat di sini terlihat berdiri di atas kepala mereka sendiri. Untuk menempatkan dialektika di atas pondasi yang kukuh, sangatlah penting untuk memutarbalikkan filsafat Hegel, untuk mengubah dialektika idealis menjadi materialisme dialektik. Yang ini adalah pencapaian besar dari Karl Marx dan Frederick Engels. Studi kita dimulai dengan satu ulasan ringkas tentang hukum-hukum dasar materialisme dialektik yang mereka kemukakan.


Kesimpulan



Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa
realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang
sejenis dengan itu.
Dengan tokoh terkenal yaitu Plato , Plato ( Greek, Plátōn) (sekitar 427 S.M. - sekitar 347 S.M.) ahli falsafah Yunani Klasik yang sangat berpengaruh, murid pada Socrates dan guru pada Aristoteles. Hasil kerjanya yang paling mashyur adalah Republik (dalam bahasa Yunani: Politeia, "negeri") yang dia menguraikan garis besar pandangannya pada keadaan "ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama.
Sumbangan Plato yang terpenting adalah ilmunya mengenai ide. Dunia fana ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Di dunia ideal semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang fizikal yang boleh disentuh dan dlihat, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelek. Sebagai contoh, konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".
Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpamaan tentang orang di gua.

Ciri - ciri Orang Bertakwa

1. Ciri – Ciri Orang Bertakwa

Allah berfirman dalam Al – Qur’an surah Ali – Imran (3) : 133 yang berbunyi “ Wasaari’u ilaa maghfirati mirrabbikum wajannatin ‘ardhuhas samaawati wal ardhu u’iddat lil muttaqiin “ . Ini merupakan panggilan Al – Qur’an kepada orang – orang yang beriman supaya kita semua bergegas atau mempercepat langkah kita menuju maghfirah atau ampunan Ilahi serta syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang – orang yang bertakwa .

Kalau menilik ayat ini , sampai berapa miliarpun umat manusia sampai akhir zaman nanti , surga Allah masih lebih luas ketimbang manusia yang sudah ada sehingga pasti setiap manusia kebagian tempat. Tidak pernah ada kekhawatiran bahwa nanti seseorang yang beriman dan beramal shalih dibumi ini lantas besok di akhirat tidak kebagian tempat.

Sementara , neraka jahannam pun itu juga luas sekali , dalam Al – Qur’an Allah bertanya , “ Halimtala’ti , wahai neraka jahannam , apakah engkau sudah penuh ?” Kemudia neraka jahannam mengatakan , “ Hal mim mazid , Ya Allah , apakah masih ada tambahan lagi untuk kami ini ? “ Jadi , masih luas sekali neraka jahannam itu sehingga tidak pernah penuh.

Ini satu hal yang perlu kita camkan bahwa memang kita , orang awam , disuruh mengejar maghfirah atau ampunan Ilahi dan surga jannatun na’iim , yang amat luas , yang memang disediakan bagi orang – orang yang bertakwa.

a. Definisi Takwa

Definisi orang bertakwa sesuai surah Ali – Imran (3) : 134 itu yang mana berbunyi “ Alladziina yunfiquuna fis – sarraa’i wadhdharraa” , orang yang menunaikan infak . Yaitu mengeluarkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah sekian persen , lebih banyak lebih bagus , baik dalam keadaan lapang atau senang maupun dalam keadaan susah atau terpaksa.

Jadi , rupanya sangat dianjurkan atau didorong oleh agama islam untuk selalu menjadi orang yang dermawan , selalu membayar infak ,pada kondisi apapun . Bukan hanya pada saat rezeki kita banyak kita membayar zakat , melainkan pada waktu dharraa’ , agak pas – pasan , bahkan mungkin agak sempit , itupun kita harus tetap mengambil sekian persen dari rezeki kita untuk kesejahteraan bersama.

Ini satu hal yang perlu kita garis bawahi , kalau infak sebagai bagian dari takwa sudah semakin memudar , maka kita tentunya akan melihat bahwa gerakan – gerakan amal shaleh kita juga akan memudar . Tidak bisa tidak . Karena , kalau kita ingin membuka sifat takwa yang lebih luas , maka kita akan menemukan dalam surat Al – Baqarah (2) : 177 yang artinya “Bukanlah yang dinamakan kebajikan itu sekadar menghadapkan wajahmu ketimur dan kebarat . Sesungguhnya yang dinamakan kebajikan itu itu adalah beriman kepada Allah , kepada Rasul – Nya , hari akhir , kitab suci , para malaikat , para nabi . Kebajikan ( orang yang bertakwa ) adalah memberikan sebagian dari harta benda yang dicintainya kepada anak yatim , fakir miskin , orang –orang yang papa . Kepada mereka yang putus perbekalannya ditengah jalan , musafir , musafir yang berjalan untuk mengejar suatu cita – cita yang kemudian ditengah jalan kehabisan bekal juga perlu disantuni . Kemudian mereka yang meminta – minta dan mereka yang berada dalam belenggu eksploitasi , mendirikan shalat , dan menunaikan zakat , dan orang – orang yang sabar dalam kesempitan , penderitaan , dan dalam peperangan . Mereka itulah orang – orang yang benar dan mereka itulah orang – orang yang bertakwa “

Ayat ini cukup panjang yang mendemonstrasikan gambaran yang utuh mengenai sifat – sifat takwa itu . Ada dimensi iman , ada dimensi amal shalih , dan macam – macam


b. Dua Sisi Takwa

Takwa itu memiliki dua sisi . Yang satu sisi Do dan yang satu Don’t . Yang Do atau kerjakan , ya melakukan Shalat , infak , zakat , amal shaleh , dan macam – macam kebaikan. Sedangkan yang Don’t atau jangan sesungguhnya gampang sekali , yaitu jang terjebak dalam hawa nafsumu sendiri.

Surat Ali – Imran (3) : 14 yang memiliki makna “ Dijadikan Indah pada ( pandangan ) manusia kecintaan kepada apa – apa yang diingini , yaitu : wanita – wanita , anak – anak , harta yang banyak dari jenis emas , perak , kuda pilihan , binatang – binatang ternak dan sawah ladang , itulah kesenangan hidup didunia ; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik ( surga ).

Dari ayat ini sudah jelas sekali bahwa sisi yang Don’t atau jangan melakukan maksudnya jangan sampai kita terjebak dalam hawa nafsu kita. Hawa nafsu mengajak kita kemana saja , lihatlah surat Ali – Imran diatas.

Nafsu boleh saja , tetapi terkendalikan lewat saluran yang benar . Mengejar harta boleh , tetapi kemudian dimanfaatkan untuk ibadah. Mengejar oangkat boleh , tetapi untuk menganyomi atau melindungi , dan sebagainya.
Maka dari itu , kita harus selalu mengasah takwa kita dalam kehidupan pribadi , keluarga , social kemasyarakatan , bertetangga , dan bernegara dengan mengingat Do dan Don’t tadi sebaik – baiknya. Ini supaya kita betul – betul memiliki suatu kehidupan yang seperti kata Nabi , yaitu seorang mukmin yang bagus , yang masa sekarang ini lebih bagus dari masa lalunya , dan masa datangnya akan lebih bagus lagi dari pada masa kini atau sekarang.


2. Cara Baru Memahami Islam

Kalau kita mendengar istilah tajdidul islam atau pembaruan Islam , maka sudah tentu bukan agama Islam lantas diubah , dimodifikasi , ditambah dan dikurangi . melainkan melakukan penyegaran kembali , yaitu penyegaran pemahaman dalam cara kita menyikapi Al – Qur’an dan Sunnah .
Akan tetapi , sekali – kali jangan diartikan bahwa pembaruan dalam Islam merupakan modifikasi atau perubahan terhadap agama itu sendiri. Jadi , cara kita memahami , cara kita berkerja , memandang persoalan , dan lain – lain yang harus di – tajdid , di – reform ,diperbarui.

Perubahan tersebut pertama adalah menyangkut akidah , nah perubahan ini bukan berarti mengubah mengubah akidah ummat atau akidah kita, melainkan dalam arti tanzhiful ‘aqidah .Tnazhifu arinya furifikasi , pembersihan , dan pemurnian. Jadi hal – hal yang mengotori akidah kita bersihkan , kita campakkan sejauh – jauhnya , supaya akidah kita betul – betul seperti yang dikehendaki Al-qur’an dan Assunnah.

Kedua yaitu mengenai teologi islam , teologi bukan seperti ilmu ushuludian gaya lama , dalam arti membahas sifat Allah yang dua puluh , kemudian mempersoalkan secara bertele – tele , kalau seorang muslim sampai melakukan dosa besar masih disebut muslim atau tidak .Kemudian Al – Qur’an itu makhluk atau bukan , Al – Qur’an itu Azali atau non azali , dan lain lain. Hal – hal seperti itu jelas akan kita teruskan sebagai penajaman teologi islam . tetapi lebih dari itu , saat ini kalangan anak muda atau generasi muda Islam memerlukan perspektif yang lain , yaitu menginginkan suatu teologi yang relevan dengan masalah – masalah social yang kongkret ,

Artinya , teologi bukan lagi berbicara mengenai ketuhanan saja , melainkan teologi lebih dari itu , yaitu juga bicara tentang hubungan anatar ketuhanan dan kemanusiaan.

3. Sekularisme : Proyek Menjauhkan Agama

Sekularisme adalah suatu ideology atau paham yang mengajarkan bahwa agama merupakan masalah subjektif setipa individu yang hanya bermanfaat untuk memenuhi tuntutan – tuntutan kejiwaan. Disamping itu paham ini hanya beranggapan agama hanya berhubungan dengan masalah privat , dalam arti masalah – masalah pribadi , oleh karena itu , urusana kemasyarakatan , seperti politik , ekonomi , kebudayaan , dan pengembangan ilmu dan teknologi modern , dalam pandangan sekularisme tidak dapat dan tak perlu dikaitkan dengan agama.

Sekularisme melihat kehidupan secara dikotomis . Mereka selalu mempertentangk antara kehidupan duniawi dan ukhrawi , imanen dan transcendental , profane dan sacral , jasmani dan ruhani , sementara dan abadi.. Cara berpikiran dkikotomis ini menciptakan manusia – manusia yang berkepribadian pecah , split personality . Dalam pandangan Islam sekularisme jelas tertolak karena Islam tidak memisahkan kehidupan manusia secara dikotomis. Islam melihat kehidupan itu Utuh , satu , bulat. Sehingga , kehidupan ukhrawi kita merupakan kelanjutan dari seluruh performance , prestasi hidup kita didunia ini.

Hubungan Sesama Manusia Dalam Islam

1. Islam Agama Keadilan

Sesungguhnya kalau kita dengar kata tauhid didalam agama Islam itu berarti tauhidullah , menunggalakn atau mengesakan Allah SWT.dalam ushuludin tauhid trbagi menjadi duakategori rubbubiyah dan tauhid ulluhiyah

Tauhd Rubbubiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah taala di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya:

- Pencipta seluruh makhluk.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar: 62)

- Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6)

- Penguasa dan pengatur segala urusan alam, yang meninggikan lagi menghinakan, menghidupkan lagi mematikan, memperjalankan malam dan siang dan yang maha kuasa atas segala sesuatu.

“Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki. Di tangan engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukan malam kedalam siang dan engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Ali Imron: 26 -27).


Dengan demikian Tauhid Rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal yaitu:
1. Beriman kepada perbuatan–perbuatan Allah secara umum seperti mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan lain-lain.
2. Beriman kepada qodho dan qodar Allah.
3. Beriman kepada keesaan Zat-Nya.
Sedangkan tauhid Ulluhiyah adalah mengesakan Allah dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqorub dan ibadah seperti berdoá, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakal, bertaubat, dan lain-lain.
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh: 163)
“Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (QS. An Nahl: 51)

“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada sesuatu dalilpun baginya tentang itu maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir tiada beruntung.” (QS. Al Mu’minun: 117).


Tauhid inilah yang dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rububiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah. Kemurnian Tauhid Uluhiyah akan didapatkan dengan mewujudkan dua hal mendasar yaitu:
1. Seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah bukan kepada yang lainnya.
2. Dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
Kedua macam tauhid di atas memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan, dimana keimanan seseorang kepada Allah tidak akan utuh sehingga terkumpul pada dirinya ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid Rububiyah seseorang tak berguna sehingga dia bertauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah, serta Tauhid Uluhiyah seseorang tak lurus sehingga dia bertauhid asma dan sifat. Singkatnya, mengenal Allah tak berguna sampai seorang hamba beribadah hanya kepada-Nya. Dan beribadah kepada Allah tidak akan terwujud tanpa mengenal Allah.